aku hidup dalam keterpurukan aku tak dapat menentukan arah dalam berumah tangga aku tak dapat menemukan yang namanya sakinah warohmah dan mawadah dalam rumah tangga ku
Aku juga pernah sampai di titik ngerasa rumah tangga cuma jadi sumber luka, bukan tempat sakinah, mawaddah, warohmah seperti yang dulu sering aku bayangin. Bangun tidur rasanya hampa, komunikasi sama pasangan serba salah, dan aku sering nanya ke diri sendiri: “Apa aku memang nggak pantas ngerasain bahagia dalam pernikahan?” Pelan‑pelan aku belajar jujur sama perasaanku sendiri. Awalnya aku suka pura‑pura kuat, tapi ternyata itu cuma bikin sesak. Aku mulai dengan nulis semua yang aku rasain: sedih, marah, kecewa, takut, juga harapan kecil yang masih ada. Dari situ aku sadar, selama ini aku terlalu banyak memendam dan nggak pernah benar‑benar ngobrol dari hati ke hati. Soal sakinah mawaddah warohmah, aku dulu cuma paham di level kata‑kata. Sakinah itu tenang, mawaddah itu rasa sayang yang hangat, warohmah itu kasih yang penuh ampun dan pengertian. Tapi dalam praktik, ternyata butuh usaha dua arah. Aku mulai mencoba: lebih sabar dengerin pasangan bicara, nggak langsung menyalahkan, dan berani ngomong "aku sedih" tanpa teriak atau sindiran. Nggak selalu berhasil, tapi ada beberapa momen kecil yang bikin hati agak lega. Selain itu, aku juga nyari bantuan dari luar. Bukan buat buka aib, tapi buat cari perspektif. Kadang aku cerita ke teman yang bisa dipercaya, kadang nonton kajian atau konten tentang rumah tangga sakinah yang realistik, bukan yang manis‑manis doang. Dari situ aku tahu kalau ternyata banyak orang lain yang juga berjuang, bukan cuma aku. Di tengah keterpurukan, aku juga belajar bedain mana yang masih bisa diperjuangkan dan mana yang bikin diriku hancur terus‑menerus. Sakinah mawaddah warohmah itu bukan berarti hubungan tanpa masalah, tapi hubungan yang tetap berusaha sehat meski lewat banyak badai. Kalau aku terus merasa tersiksa, aku mulai berani mikir: mungkin bentuk "warohmah" untuk diriku adalah belajar sayang sama diri sendiri dulu, entah dengan istirahat, batasan, atau keputusan besar lain. Kalau kamu juga lagi di fase hidup dalam keterpurukan dan merasa nggak nemu sakinah warohmah dalam rumah tangga, kamu nggak sendirian. Nggak apa‑apa kalau sekarang kamu cuma kuat untuk bertahan hari ini dulu. Pelan‑pelan cari pertolongan, kuatkan iman, dan jaga dirimu. Kadang jawaban doa itu datang pelan, lewat keberanian kita ngambil langkah kecil yang selama ini kita takutin.
