Gimana yaa wak kita orang desa #beritatiktok #beritaviral
Sebagai seseorang yang tinggal di desa, saya bisa merasakan betul bagaimana sistem ekonomi di desa berbeda dengan kota besar yang lebih mengandalkan penggunaan dollar atau mata uang asing lainnya untuk berbagai transaksi. Di desa, transaksi kebanyakan masih dilakukan menggunakan rupiah ataupun sistem barter dalam komunitas tertentu. Hal ini membuat ekonomi desa lebih mandiri dan terjaga dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Penggunaan rupiah sepenuhnya dalam kegiatan sehari-hari seperti berdagang di pasar desa, membeli kebutuhan pokok, maupun bertransaksi antar warga, menciptakan ikatan sosial yang kuat. Warga desa lebih mengutamakan kepercayaan dan solidaritas antar sesama yang tercermin lewat cara mereka berinteraksi ekonomi. Selain itu, fokus pada pemanfaatan sumber daya lokal dan produk pertanian turut mendukung keberlangsungan ekonomi yang tidak bergantung pada dollar. Hal ini memungkinkan desa tetap stabil secara ekonomi walaupun terjadi gejolak di pasar internasional. Pengalaman saya juga menunjukkan bahwa meskipun tanpa ketergantungan dollar, warga desa mampu beradaptasi dan mengembangkan potensi lokalnya dengan berbagai inovasi sederhana yang sesuai dengan kondisi desa. Misalnya, pengembangan usaha kecil seperti kerajinan tangan, hasil bumi olahan, dan usaha mikro yang didukung oleh pemerintah maupun komunitas lokal. Melihat dari perspektif ini, kehidupan tanpa dollar bukan berarti tertinggal, tetapi lebih kepada kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dan menjaga kemandirian ekonomi desa. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua tentang bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan dan berkembang dengan sistem ekonomi yang sederhana namun efektif.















































