Emak-Emak dan Identitas Sosial: Belanja Jadi Cerita”

Ada satu fenomena menarik yang sering kita lihat tapi jarang kita sadari—karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari emak-emak. Fenomena ini tidak muncul di berita nasional, tidak dibahas di seminar, tapi setiap hari lewat di story WhatsApp, Instagram, dan Facebook.

Coba perhatikan baik-baik.

Emak-emak rajin banget belanja. Hampir tiap hari.Belanja dapur, belanja sayur, belanja lauk, belanja kebutuhan rumah.

Tapi anehnya…yang masuk story cuma belanja di supermarket dan mall.

Padahal faktanya, hari-hari emak-emak justru lebih sering belanja di pasar tradisional, ke mlijo (tukang sayur keliling), atau ke tukang kelontong yang bisa dicicil. Yang datang pagi-pagi sambil teriak “sayuuuurr…”, yang pindangnya masih bisa ditawar, yang daun pepayanya bisa ditanya “yang nggak pahit ada nggak, Pak?”

Tapi kok ya…

jarang banget kelihatan di story.

1. Pasar Tradisional Ramai, Tapi Sepi di Story

Setiap pagi pasar tradisional hidup.

Emak-emak sibuk milih sayur, nimbang ikan, nawar harga.

“Bu, pindangnya berapa?”

“Dua ribu, Bu.”

“Lima ratus aja ya, Pak.”

Tawar-menawar ini bukan pelit, tapi tradisi.

Ini seni. Ini keakraban. Ini ekonomi rakyat.

Tapi anehnya…adegan ini nggak pernah diabadikan.Bukan karena nggak penting,

tapi karena nggak fotogenik.

Kantong kresek kalah estetik sama paper bag.

Lantai pasar kalah kinclong sama lantai supermarket. Tukang sayur keliling kalah pencahayaan sama lampu neon.

2. Supermarket: Sayur Biasa Jadi Barang Mewah

Begitu emak-emak masuk supermarket,

kejadian langsung berubah.

Sawi yang sama, pindang yang sama, daun pepaya yang sama…tiba-tiba terasa lebih berkelas.

Troli didorong dengan penuh gaya.HP ditas langsung keluar.Story dibuka.

“Belanja bulanan dulu ”

“Stok dapur aman ”

Padahal itu sawi yang besok juga dimasak tumis.

Pindang yang nanti digoreng juga.Daun pepaya yang tetap pahit juga.

Tapi karena lokasinya supermarket, semua terasa naik kasta.

3. Mlijo Itu Nyata, Tapi Tidak Layak Dipamerkan?

Pertanyaannya sederhana tapi nyelekit:

kenapa mlijo nggak pernah masuk story?

Padahal:

• Mlijo datang ke depan rumah,

• Bisa utang dulu,

• Bisa bayar besok,

• Bisa nawar,

• Bisa ngobrol sambil ketawa.

Tapi tetap saja…HP nggak keluar dari saku.

Ada perasaan halus yang jarang diakui:

gengsi.

Bukan gengsi sama tukang sayurnya,tapi gengsi sama penonton story.

Takut dibilang sederhana.

Takut dibilang nggak modern.

Takut dibilang “kok belanjanya di situ?”

4. Media Sosial Mengubah Cara Kita Menghargai Sesuatu

Di era medsos,yang dinilai bukan cuma apa yang kita lakukan,tapi di mana kita melakukannya.

Belanja itu kebutuhan.Tapi di medsos, belanja berubah jadi identitas.

Supermarket = modern.

Mall = naik level.

Pasar = cukup untuk dapur, bukan untuk kamera.

“Bukan belanjanya yang penting, tapi background-nya.”

5. Berani Nggak Emak-Emak Bikin Story di Mlijo?

Coba bayangkan story seperti ini:

📸 daun pepaya

📸 pindang dua ribu

📸 sawi masih basah

📸 caption:

“Belanja sama langganan, ditawar seribu dapet dua.”

Keliatannya sederhana,tapi jujur. Dan justru di situlah nilai kehidupan yang sebenarnya.

Fenomena ini bukan soal salah atau benar.

Ini tentang pergeseran nilai.

Tradisional tidak hilang,hanya tersingkir dari kamera. Pasar tetap hidup,tapi mati di timeline.

Mlijo tetap berjasa, tapi tidak dianggap konten.

Emak-emak tidak meninggalkan pasar.

Tidak meninggalkan mlijo.Tidak meninggalkan tukang kelontong.

Emak-emak hanya memisahkan fungsi:

• Pasar untuk hidup,

• Supermarket untuk story.

Dan mungkin sudah saatnya kita bertanya ke diri sendiri: apakah hidup harus selalu terlihat berkelas agar dianggap bermakna?

Karena sejatinya, yang memberi makan keluarga bukan troli supermarket,tapi tangan-tangan sederhana yang setiap hari datang membawa sayur segar.

Dan mungkin…story paling jujur justru yang tidak pernah kita posting.

#wanita #inspiration #education #emakemak #story

2/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang sering memperhatikan dinamika belanja emak-emak di sekitar saya, saya merasakan betul betapa kuatnya hubungan emosional antara emak-emak dan pasar tradisional dibandingkan dengan supermarket. Saya kerap melihat ibu-ibu yang dengan cekatan menawar harga ikan atau sayur di pasar, sambil bercanda dan bercengkrama dengan para pedagang. Ini bukan sekadar transaksi ekonomi semata, melainkan sebuah ritual sosial yang mempererat tali kekeluargaan dan komunitas. Namun, ketika melihat postingan di media sosial, memang benar mayoritas emak-emak justru memamerkan belanja di supermarket yang terkesan lebih modern dan estetik. Saya rasa ini bukan karena mereka meninggalkan tradisi, tetapi karena tekanan sosial untuk terlihat "berkelas" di mata teman-teman online mereka. Misalnya, kantong kresek yang biasa dipakai di pasar tradisional dianggap kurang menarik untuk difoto dibandingkan dengan paper bag dari supermarket. Lantai pasar yang sering berantakan juga kalah dengan interior bersih dan terang di supermarket. Kalau saya sendiri, pernah merasa sedikit risih ketika ingin berbagi cerita belanja di mlijo, karena takut dianggap kuno atau "tidak gaul". Namun, saya sadar bahwa nilai sebenarnya bukan pada tempat belanjanya, melainkan bagaimana aktivitas itu memberi makna dan membawa kebaikan bagi keluarga. Belanja di mlijo yang memungkinkan cicilan dan interaksi personal memiliki kehangatan tersendiri yang tidak bisa diukur dari jumlah like di media sosial. Fenomena "emak-emak dipakai modern diposting" ini memang cerminan dari bagaimana media sosial membentuk persepsi dan nilai baru yang kadang memisahkan identitas asli dengan citra yang ingin ditampilkan. Saya berharap, semakin banyak yang berani mengangkat sisi autentik, seperti aktivitas belanja di pasar tradisional atau mlijo, karena di sanalah nilai kehidupan nyata dan tradisi yang sudah lama terjaga. Dalam keseharian, saya pun berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan praktis dan keinginan berbagi di media sosial dengan jujur. Mungkin saatnya kita merayakan keindahan dari keaslian itu sendiri, bukan hanya estetika yang sedang tren. Bagaimanapun, yang memberi makan keluarga adalah tangan-tangan sederhana yang penuh kasih di balik aktivitas tersebut, bukan sekadar latar belakang untuk foto yang sempurna.

1 komentar

Gambar jade
jade

betul sekali, di era sekarang orang pada alergi dengan kenyataan yang dijalani untuk ditampilkan di medsos, mereka menampilkan aktifitas sehari-hari di medsos sepertinya lebih suka yang kelihatan waaah, modern, kalau yang berbau tradisional dan reel dalam kehidupan sehari-hari sepertinya merasa kurang disukai. ada pengalaman yang aku alami sendiri, ada tamu ke rumah, dia seorang ibu muda yang merasa dirinya orang gaul, tiba-tiba menegur saya" bude kok aktifitas jalan-jalan di kebun di unggah di sosmed... apa ga ada yang lain, apa ga malu? " saya sangat terkejut dengan pertanyaan seperti itu... " emang kenapa...?, ya... mestinya yang diunggah itu jalan-jalan di mall itu baru keren... " oh... ternyata.... itulah fakta orang sekarang cara berpikirnya seperti itu... tidak semua tapi banyak, merasa lebih keren lebih modern tapi fakta kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan, malah aku jadi sedih melihat orang dengan cara pandang yang seperti ini... kasihan