Aku terus meminta maaf untuk hal yang tak pernah aku niatkan.
Aku lelah…
bukan karena berhenti menjadi baik,
tapi karena kebaikanku sering dibaca sebagai kesalahan.
Aku lelah…
selalu menjadi orang yang harus mengerti,
meski tak pernah benar-benar dimengerti.
Aku tidak marah,
aku hanya letih…
karena terlalu sering menjadi korban salah sangka,
dan terlalu sering diminta minta maaf
atas hal yang tak pernah aku niatkan.
Aku hanya ingin sekali saja,
dipercaya tanpa harus menjelaskan,
dimengerti tanpa harus terluka.
Pengalaman pribadi saya sering menunjukkan betapa melelahkannya berada di posisi di mana niat baik kita selalu disalahpahami. Dalam banyak situasi, ketika saya mencoba melakukan sesuatu dengan tulus, respons yang didapat bukanlah apresiasi, melainkan salah paham dan tuntutan untuk meminta maaf. Hal ini sangat melelahkan secara emosional dan mental. Saya juga menyadari bahwa kebanyakan orang tidak selalu bisa memahami maksud dan perasaan kita secara utuh. Terkadang, meskipun tidak ada niat buruk sedikit pun, tindakan kita bisa dianggap salah karena persepsi orang lain yang berbeda. Ini adalah hal yang wajar, namun bukan berarti kita harus terus-menerus merasa bersalah atau meminta maaf atas sesuatu yang tak kita sengaja lakukan. Seiring waktu, saya belajar pentingnya menetapkan batas pribadi dan berani mengungkapkan perasaan ketika merasa diperlakukan tidak adil. Meminta kepercayaan dan pengertian memang tidak mudah, apalagi jika kita sering menjadi korban salah sangka. Namun, dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, kita bisa membantu orang sekitar memahami situasi kita lebih baik. Saya pun mulai memilih untuk lebih fokus pada orang-orang yang menghargai dan mempercayai saya tanpa harus saya jelaskan banyak hal. Kepercayaan ini menjadi sumber kekuatan agar saya tidak merasa letih terus-menerus. Bagi yang mengalami hal serupa, penting untuk diingat bahwa kelelahan karena diminta meminta maaf atas sesuatu yang tidak disengaja adalah tanda bahwa kita perlu memperhatikan kesehatan mental kita. Jangan ragu untuk mencari dukungan atau berbagi cerita dengan orang terdekat agar beban tersebut bisa sedikit berkurang. Pada akhirnya, kita semua berhak untuk dipahami dan dihargai, bukan hanya sekadar diminta minta maaf tanpa alasan yang jelas.

