hiduplah sebagaimana orang hidup

hiduplah sebaik baiknya hidup

sebab ratusan juta orang di luar sana masih banyak yang tidak pernah diberikan kesempatan untuk bernafas, serta melihat indahnya dunia.

dan matilah sebaik baiknya orang mati

sebab ratusan juta orang di luar sana tidak pernah di berikan kesempatan untuk mati dengan layak

#bertahapdanbertumbuh

2025/12/31 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, kalimat “maka hiduplah sehidup-hidupnya dan matilah setenang-tenangnya” itu pernah jadi tamparan halus buat aku. Dulu aku cuma ngejalanin hari kayak robot: bangun, kerja, scroll medsos, tidur. Rasanya hidup, tapi sebenarnya cuma numpang lewat. Sampai akhirnya aku sadar, banyak orang di luar sana bahkan nggak dikasih kesempatan buat bernafas lama-lama, sementara aku yang masih dikasih usia malah sering ngeluh terus. Sejak itu aku mulai nanya ke diri sendiri: kalau tua dan mati itu pasti, aku mau ngisi bagian "hidup" di tengah-tengahnya pakai apa? Pelan-pelan aku belajar buat nggak cuma mikirin kelihatan bahagia di luar, tapi beneran ngerasain tenang di dalam. Bukan berarti hidup harus selalu produktif atau dikejar target besar, tapi minimal setiap hari ada satu hal kecil yang bikin aku bangga sama diri sendiri. Soal "masih muda jangan tebelin gengsinya, tapi tebelin isi rekeningnya", aku nangkepnya bukan cuma soal uang, tapi juga soal isi kehidupan. Gengsi bikin kita kelihatan tinggi, tapi seringnya kosong. Sementara "rekening" menurutku bisa diartikan luas: rekening keuangan, rekening pengalaman, rekening kebaikan. Aku mulai belajar ngurangin gaya hidup yang cuma buat pamer, dan lebih fokus ke hal-hal yang benar-benar ngebantu masa depan: nabung, belajar skill baru, jaga kesehatan, rawat hubungan sama orang-orang terdekat. Aku juga jadi lebih mikir soal cara mati yang tenang. Bukan berarti kita mikirin kematian tiap hari dengan cara yang seram, tapi lebih ke: kalau sewaktu-waktu dipanggil, apakah aku sudah berusaha jadi versi terbaik dari diriku? Apakah aku pernah minta maaf ke orang yang pernah aku sakiti? Apakah aku udah jujur sama diri sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu bikin aku lebih hati-hati dalam bersikap, dan lebih menghargai detik-detik kecil yang kelihatannya sepele. Buat kamu yang lagi ngerasa hidupnya datar, mungkin ini bisa jadi pengingat lembut: kita nggak harus langsung berubah besar dalam semalam. Cukup mulai dari langkah kecil tapi konsisten. Bangun lebih pagi 10 menit buat refleksi, nulis rasa syukur hari ini, berani bilang sayang ke orang tua, atau mulai nyisihin uang meskipun sedikit. Perlahan, hidup jadi kerasa lebih "hidup". Pada akhirnya, "hiduplah sebaik-baiknya hidup" buatku artinya berani hadir sepenuhnya di hari ini: merasakan senang, sedih, gagal, dan bangkit lagi. Dan "matilah sebaik-baiknya orang mati" artinya berusaha sampai akhir, lalu pasrah dengan tenang karena tahu kita sudah berjuang. Pelan-pelan saja, bertahap dan bertumbuh, selama masih dikasih kesempatan bernafas.

2 komentar

Gambar anyundia
anyundia

MasyaAlloh Tabarokaloh..motifasi yg sangat baik...persiapkanlah dunia untuk bekalmu diahirat...carilah harta seakan akan kamu akan hidup selamanya dan persiapkanlah bekal ahiratmu seakan akan kamu akan mati besok

Lihat lainnya(1)