Suasana subuh di dapur zaman dulu
Kalau ngomongin suasana subuh zaman dulu di dapur, rasanya langsung kebawa balik ke masa kecil. Dapur masih sederhana, lantainya kadang cuma semen atau bahkan tanah, lampunya redup, dan yang paling khas itu suara dan baunya. Biasanya sekitar jam 4 atau 5 pagi, ibu sudah bangun duluan. Dari kamar, kita bisa dengar suara panci dan piring beradu pelan, kompor minyak dinyalakan dengan bunyi khasnya yang berdesis, kadang diselingi suara kayu bakar yang berletup kecil di tungku. Udara masih dingin, tapi dari dapur terasa hangat karena api yang menyala. Yang paling aku ingat adalah aroma. Wangi kopi hitam yang sedang diseduh, bercampur dengan bau bawang putih dan bawang merah yang lagi ditumis untuk menyiapkan sarapan. Kadang ada bau nasi yang sedang ditanak di magic com jadul atau dandang, dan suara tutup panci bergoyang pelan karena uapnya. Di luar, suara azan subuh dari mushola atau masjid jadi latar belakang yang menenangkan. Dulu, suasana subuh zaman dulu itu seperti punya ritme sendiri: azan berkumandang, ayam jago berkokok, lalu dari dapur terdengar suara ibu memanggil, nyuruh kita bangun buat shalat dan siap-siap sekolah. Dapur juga jadi tempat ngobrol paling seru di pagi hari. Sambil nunggu air panas matang, ibu sering cerita macam-macam, kadang curhat soal harga kebutuhan yang naik, kadang bahas rencana seharian. Kita yang masih ngantuk duduk di bangku kayu, minum teh hangat atau kopi susu, sambil menghangatkan tangan di dekat kompor. Suasana subuh jaman dulu juga identik dengan persiapan bekal. Ibu masak mie goreng, tumis sayur, atau sekadar telur dadar, tapi entah kenapa rasanya selalu lebih enak daripada sekarang. Mungkin karena dimasak dengan tenang, tanpa buru-buru, dan selalu ada doa baik yang dipanjatkan di sela-sela kesibukan. Sekarang, banyak dari kita yang sudah jarang merasakan suasana itu. Dapur lebih modern, serba praktis, kadang sarapan pun diganti dengan makanan instan atau beli di luar. Tapi kenangan tentang suasana subuh zaman dulu di dapur tetap melekat: hangat, sederhana, dan penuh rasa aman. Kadang kalau kangen, aku sengaja bangun lebih pagi, matikan lampu terang dan pakai lampu yang redup, seduh kopi hitam, dan masak sarapan pelan-pelan tanpa musik atau gadget. Hanya suara kompor dan sendok, supaya bisa sedikit mengulang suasana subuh jaman dulu yang bikin hati tenang dan adem. Buat kamu yang punya kenangan serupa, coba deh tulis atau ceritakan ulang. Ternyata, mengingat suasana subuh di dapur zaman dulu bisa jadi cara sederhana untuk bersyukur dan merasa punya rumah, walaupun sekarang mungkin kita sudah jauh dari kampung halaman.





























suasana subuh yg buat hati selalu merindu y Aa...