"Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman."
2/20 Diedit ke
... Baca selengkapnyaPuasa seringkali dipahami sebagai tradisi atau kewajiban tahunan tanpa makna mendalam. Namun, dalam Yesaya 58:1-9a ditegaskan bahwa puasa yang dikehendaki Tuhan bukan hanya soal menahan diri dari makanan atau minuman, melainkan sebuah tindakan pembebasan dari ketidakadilan dan kezaliman. Dari pengalaman saya pribadi menjalankan puasa dengan fokus membuka belenggu-belenggu ketidakadilan, saya merasakan kedamaian dan kekuatan spiritual yang berbeda. Puasa menjadi ruang kosong yang memungkinkan hati dan pikiran lebih dekat kepada Tuhan, bukan sekedar formalitas. Melalui puasa yang benar, kita diajak untuk peduli dan membantu sesama yang tertindas, serta menjauhkan diri dari hawa nafsu yang menjerat. Hal ini sejalan dengan pengertian puasa sebagai cara merindukan kehadiran Tuhan, bukan hanya menjalani rutinitas. Dengan menginternalisasi pesan Yesaya 58, puasa kita tidak hanya memperbaiki hubungan pribadi dengan Tuhan, tapi juga meningkatkan empati sosial, sehingga menghidupkan nilai kasih dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.