Aku tumbuh jadi versiku sendiri 🫶🏻
Sebagai bidan muda, jujur aja perjalanan aku nggak selalu mulus. Di kampus dulu, aku pikir setelah lulus dan bekerja semuanya bakal terasa jelas: kerja di puskesmas atau klinik, melayani pasien, pulang, istirahat. Tapi ternyata, dunia kerja dan kehidupan pribadi itu jauh lebih kompleks, apalagi ketika kita juga berperan sebagai bidan rumah tangga. Aku sering banget ketemu orang yang komentarnya nyelekit. Ada pasien atau keluarga pasien yang ngomong, "Masih muda kok jadi bidan? Yakin sudah pengalaman?" Di momen seperti itu, kutipan yang ada di foto jadi pegangan: tugas kita bukan membalas orang yang menyakiti kita, tapi memperbaiki diri agar tidak jadi seperti mereka. Kalimat sederhana, tapi ngena banget di kondisi nyata. Sebagai nakes, kita dituntut profesional, tapi di balik seragam itu kita tetap manusia biasa yang bisa capek dan tersinggung. Dulu, kalau ada yang meremehkan, aku baper dan kepikiran berhari-hari. Lama-lama aku sadar, kalau aku menghabiskan energi buat balas atau kesal terus, aku malah berhenti tumbuh. Sekarang, setiap ada komentar yang bikin sakit hati, aku jadikan itu bahan evaluasi. Misal ada yang bilang aku kaku saat jelasin edukasi ke ibu hamil, aku nggak lagi tersinggung. Aku pulang, aku catat, aku belajar lagi cara komunikasi yang lebih hangat. Pelan-pelan aku merasa tumbuh jadi versiku sendiri, bukan versi yang dipaksa orang lain. Bidan muda juga sering dihadapkan dengan drama di lingkungan kerja: senioritas, gosip, dan perbandingan. Aku pernah di posisi disalahpahami padahal niatnya baik. Dulu, refleks pengen klarifikasi ke semua orang. Tapi seiring waktu, aku belajar kalau nggak semua hal perlu dibalas. Kadang yang perlu cuma diam, perbaiki pelayanan, dan biarkan waktu yang nunjukin siapa kita sebenarnya. Di rumah, peran sebagai bidan rumah tangga juga unik. Orang pikir kalau kita tenaga kesehatan, pasti segala hal tentang anak dan keluarga harus sempurna. Padahal aku juga belajar pelan-pelan, banyak trial and error. Dari sini aku makin paham, menjadi "bidan muda" bukan cuma soal profesi, tapi juga proses jadi manusia yang lebih matang secara emosi. Kalau kamu juga bidan muda atau nakes yang lagi berjuang, mungkin kamu relate sama perjalanan ini. Kita boleh kok capek dan sedih, tapi jangan berhenti memperbaiki diri. Yang penting bukan bagaimana orang lain melihat kita, tapi bagaimana kita memilih untuk nggak jadi seperti mereka yang menyakiti. Pelan-pelan, aku belajar: tumbuh jadi versiku sendiri itu berarti menerima kekurangan, mengakui kesalahan, tapi tetap melangkah. Nggak perlu balas sakit hati dengan sakit hati lagi. Cukup jadikan pengalaman itu bahan bakar untuk jadi bidan muda yang lebih kuat, lebih lembut, dan lebih bermanfaat buat orang lain.
























