Silaturahmi merupakan anjuran yang terdapat dalam ajaran Islam. Berdasarkan hal itu, hukum bukber saat bulan Ramadan adalah boleh. Namun, bukber juga dapat mengurangi pahala ibadah puasa loh✨ karena beberapa hal di bawah ini ⬇️⬇️
1. Gibah.
Menggunakan momen bukber untuk membicarakan aib orang lain.
2. Pamer.
Ajang unjuk kekayaan, pakaian, gadget, atau pencapaian.
3. Meninggalkan Salat Magrib/Isya/Tarawih.
Asyik makan atau mengobrol sehingga melalaikan kewajiban salat.
4. Campur Baur (Ikhtilat) tanpa batas.
Tidak menjaga adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
... Baca selengkapnyaJujur, aku baru ngeh soal dosa jariyah setelah sering lihat reminder tentang hati‑hati bukber bisa nambah dosa. Kalau sekali dua kali dosa masih bisa berhenti di kita, tapi kalau perilaku buruk kita ditiru orang lain terus‑terusan, itu bisa jadi dosa jariyah yang ngalir terus meski kita udah berhenti melakukannya.
Misalnya, saat bukber kita ngerasa biasa aja ngomongin aib orang (gibah). Teman yang tadinya nggak biasa gibah jadi kebawa arus. Besok‑besok dia melakukan hal yang sama di tongkrongannya, dan kebiasaan itu menyebar. Kita bisa dapat ‘jatah’ dosanya juga, karena kita yang jadi pemicu. Sama halnya dengan pamer di bukber: update story berlebihan, nunjukin gaya hidup mewah, dan bikin orang lain kepincut pengen ikut‑ikutan. Lama‑lama budaya pamer ini jadi trend di circle kita. Itu juga salah satu bentuk dosa yang bisa terus hidup sebagai dosa jariyah.
Termasuk kebiasaan ninggalin salat Magrib, Isya, atau Tarawih cuma demi duduk manis di kafe. Saat kita ngajak teman, "Udah lah, sholat nanti aja, sayang momen bukber," lalu mereka ikut. Kalau kebiasaan meremehkan salat ini kebawa sampai setelah Ramadan, lagi‑lagi jejak dosanya bisa balik ke kita sebagai dosa jariyah karena mencontohkan hal yang salah.
Campur baur tanpa batas antara laki‑laki dan perempuan juga perlu banget dijaga. Kadang kita ngerasa, "Ah cuma nongkrong kok," padahal dari situ bisa lahir kebiasaan chat berdua, ketemu berdua, sampai hal‑hal yang menjurus maksiat. Kalau orang lain menormalisasi itu gara‑gara lihat kita duluan, dosanya nggak berhenti di satu momen saja.
Makanya, sekarang kalau diajak bukber aku coba set aturan buat diri sendiri: pastikan lokasi mendukung untuk salat tepat waktu, batasi ngobrol yang nggak penting, no gibah, dan nggak update postingan berlebihan yang kesannya pamer. Aku juga lebih pilih bukber yang formatnya sederhana: makan secukupnya, lalu lanjut Tarawih bareng di masjid terdekat. Rasanya lebih tenang, nggak was‑was mikir ini bukber nambah pahala apa malah nambah dosa.
Kalau kamu pengen terhindar dari 10 macam dosa jariyah, salah satu langkah kecilnya bisa dimulai dari cara kita mengatur momen bukber. Nggak harus selalu batalin bukber, tapi ubah mindset: fokus silaturahmi, jaga lisan dari gibah, jaga hati dari pamer, jaga waktu salat, dan jaga adab pergaulan. Dengan begitu, bukber bisa jadi momen berharga yang benar‑benar membawa keberkahan, bukan meninggalkan jejak dosa yang terus mengalir.