hasym
kau tidak pernah pamit, sekalipun
hanya saja kau katakan padaku bahwa kau tak akan pernah pulang lagi
mataku penuh, aku tak bisa lagi berkata-kata
setidaknya kau ingat akan janjimu
meski waktu akan terus datang, kau tidak akan pernah berubah. begitukan?
ku kau tak akan pernah lupa akan janjimu, bagiku apasaja yang kau katakan adalah benar.
sesekali kutatap pergimu, langkahmu pasti
bahkan jalanmu perlahan menjadi lari.
bukan aku namanya , Maryam Zamani jika aku ikut juga pergi.
aku tak pernah beranjak , sepelik apapun langit saat itu
harapku satu, diterminal itu
kau berbalik arah, kembali pulang bersamaku
seketika bayangmu pergi, aku tak tahu. bahkan sampai detik ini, apasaja yang ada dalam hatimu waktu itu.
tanganku melambai ke arahmu, bahkan ketika kau tak tampak lagi.
mataku penuh, kakiku tumbang.
aku hanya ingin tahu alasanmu pergi? bukankah itu adil?
tetapi sekali lagi kukatakan, kau hanya berkata tak akan pulang.
Hasyim,
kau Regas hatiku tak bersisa, kau bawa serpihan itu pula sampai hari ini, dia tak pernah lagi rapi.
barangkali aku yang kurang, tetapi bukankah kau yang selalu mengatakan bahwa engkau sempurna denganku.
barangkali aku yang bodoh, tetapi bukankah orang terbodoh ini rela sekarat menanggung perih atas ketidak Adilan yang kau namai "cinta cukup disini".
hasyim, jika kau ingin pulang. pulanglah, aku disini. tetapi tidak ada tempat lagi dirimu di diriku.
sebab aku , sudah tahu didetik ini. apa alasanmu pergi
