selesai.
hari itu ,
dikota kita, dimana kita pernah sama memiliki rasa
tujuh tahun, hampir 80 purnama kita bersama
ku kira engkau terakhir,
sebab kaulah satu-satunya manusia yang bersedia bertahan
namun, hari itu
sejak kau pernah pergi, hatiku tak lagi sama
meski engkau memaksa hadir lagi
kau berikan sebuah janji, untuk terus tinggal
mataku tak berair lagi,
sejak hari itu, ditempat itu,
kau katakan bahwa kita tak lagi kita lagi
kita adalah kau dan aku, dua wujud yang berbeda
tak lagi sama
tanganku dingin, harusnya aku marah
tapi marahku hilang, lelahku tak berujung
kukira kau tepati, tapi sama
kau ulang lagi kisah lama yaitu "pergi"
sudah berjilid-jilid namamu dikisahku
tak perduli seberapa perih, kau tetap aku
bagiku, kau adalah duniaku
untukku pulang, untukku berbagi
tetapi, ku ingat lagi katamu
kita bukan kita lagi
ternyata selesai sudah kisah itu,
tujuh tahun.
kau pernah berjanji atas nama tuhan, kau adalah aku
tetapi,
hatimu terbagi
kau tak lagi pulang. sesekali kau menatapku penuh harap dirumahmu kini.
jangan lagi,
bukankah rumahmu begitu damai sampai kau tinggal aku pergi?
bukankah hatinya begitu sejuk, hingga kau bergegas pergi tanpa berpamitan?
jangan lagi menatapku dengan tatapan penuh pengharapan.
bagiku, engkau sudah selesai.
aku adalah aku, dan engkau adalah kita antara kau dan dia yang kau pilih
jangan lagi menyesal, apalagi seringkali menanyaiku dimana aku
tahukah engkau,
setiap kata tanyamu kepadaku adalah jarum yang barangkali sangat menusuknya?
bukankah kau telah memilih dia, bukan aku dengan cara penghianatan?
apalagi yang kau sesali,
berjalanlah dengan caramu sendiri,
bukankah ruang hatimu yang terdalam tiada lagi namaku disana. . .
























