Kita adalah Penjaga bagi Sesama Kita
Yehezkiel 33:7
Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.
#manado
#fyp
#sorotan
Waktu pertama kali baca Yehezkiel 33:7, kalimat "Aku menetapkan engkau menjadi penjaga" langsung nancep di hati. Ternyata di hadapan Tuhan, kita bukan cuma hidup untuk diri sendiri, tapi dipanggil jadi penjaga bagi sesama kita. Aku membayangkan sosok penjaga di tembok kota Israel zaman dulu. Tugasnya berat, harus selalu berjaga, nggak boleh lengah. Begitu lihat bahaya, dia wajib meniup sangkakala supaya semua orang waspada. Kalau dia diam saja, seluruh kota bisa celaka. Dari situ aku belajar, menerima firman Tuhan itu bukan cuma untuk pengetahuan, tapi ada tanggung jawab di dalamnya. Di zaman sekarang, bentuknya mungkin berbeda. Kita bukan lagi berdiri di tembok kota, tapi kita bisa jadi "penjaga" lewat hal-hal sederhana: mengingatkan teman yang mulai menjauh dari Tuhan, mendoakan keluarga, atau sekadar menguatkan seseorang yang imannya lagi lemah. Kadang Tuhan ingatkan kita lewat satu ayat, misalnya seperti Yehezkiel 33, bukan cuma untuk menghibur kita, tapi supaya kita juga menyampaikannya kepada orang lain. Jujur, kadang aku sendiri merasa nggak enak buat menegur atau mengingatkan orang lain. Takut dikira sok suci atau menggurui. Tapi lewat ayat ini aku belajar, yang penting adalah sikap hati. Tuhan bilang, "Bilamana engkau mendengar sesuatu firman daripada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku." Artinya kita menyampaikan bukan atas nama diri sendiri, tapi demi nama Tuhan, dengan kasih dan kerendahan hati. Aku mulai belajar praktik hal ini pelan-pelan. Misalnya, ketika ada teman cerita lagi down secara rohani, aku coba share ayat yang aku baca hari itu, termasuk ayat-ayat dari Yehezkiel. Bukan maksa, tapi menawarkan penguatan: "Aku tadi baca ini, mungkin bisa jadi penghiburan juga buat kamu." Ternyata seringkali Tuhan pakai momen sederhana begitu untuk menguatkan mereka. Bagiku, frasa "kita adalah penjaga bagi sesama kita" mengingatkan bahwa iman Kristen itu berjalan bersama-sama. Kita saling jaga, saling ingatkan, dan saling mengarahkan kembali kepada Tuhan. Bukan berarti kita sempurna, tapi justru sebagai sesama manusia kita saling menopang supaya jangan ada yang tertinggal. Kalau kamu lagi merenungkan Yehezkiel 33, coba tanya ke diri sendiri: siapa orang yang Tuhan percayakan untuk kamu jaga lewat doa, perhatian, dan firman yang kamu terima? Mungkin mulai dari lingkup kecil dulu—keluarga, sahabat, komunitas. Dari situ, pelan-pelan kita belajar hidup sebagai penjaga yang setia, bukan karena hebat, tapi karena Tuhan yang terlebih dulu menjaga kita.

































