💔 “Pak, jangan dibawa… ini buat cari makan.”
Seorang driver ojol terlihat memohon kepada petugas saat motornya diangkut Dishub ketika sedang mengambil pesanan makanan di Jakarta Timur. Bagi sebagian orang, motor mungkin hanya kendaraan. Tapi bagi yang lain, itu adalah sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga setiap hari.
Di sisi lain, petugas tetap menjalankan penertiban sesuai aturan terhadap kendaraan yang dianggap melanggar dan mengganggu ketertiban lalu lintas.
Kalau menurut kalian, dalam situasi seperti ini harus lebih mengutamakan aturan atau memberikan toleransi? 🤔
👇 Tulis pendapat kalian di kolom komentar.
Mengamati langsung kejadian di mana motor ojol diangkut oleh Dishub saat mengambil pesanan mengundang banyak perasaan campur aduk. Bagi para driver ojol, motor bukan sekadar kendaraan, melainkan alat utama untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Saksi mata atau mereka yang pernah mengalami hal serupa tentu memahami betapa pentingnya kendaraan itu. Dalam pengalaman pribadi saya, menjadi driver ojol memang penuh tantangan. Selain risiko terjaring razia, harus berhadapan dengan kemacetan dan jadwal pengantaran yang ketat juga menjadi tekanan tersendiri. Ketika motor diangkut petugas, bukan hanya kehilangan sementara alat kerja, tapi bisa berdampak langsung pada penghasilan harian. Saya pernah melihat betapa seorang driver berusaha memohon dengan lirih agar motornya tidak dibawa, dengan alasan itu adalah satu-satunya sumber untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa petugas Dishub juga menjalankan tugas sesuai aturan, terutama dalam penertiban kendaraan yang dianggap melanggar dan berpotensi mengganggu ketertiban serta kelancaran lalu lintas. Kadang, lokasi parkir atau aktivitas ojol yang sembarangan memang bisa menimbulkan masalah pada arus lalu lintas dan keselamatan. Dari segi penegakan hukum, hal ini harus ditegakkan demi kebaikan bersama. Menurut saya, kunci penyelesaiannya adalah komunikasi dan kesadaran bersama. Pemda dan Dishub bisa memberikan ruang khusus yang memadai untuk driver ojol agar bisa menunggu atau mengambil pesanan tanpa mengganggu ketertiban. Di sisi lain, driver ojol perlu lebih memahami aturan dan menyesuaikan area operasionalnya agar tidak bersinggungan dengan jalur vital atau kawasan terlarang. Saya berharap ada solusi yang lebih manusiawi dengan memprioritaskan kesejahteraan driver ojol tanpa mengabaikan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan lain. Contohnya, program edukasi dan sosialisasi yang rutin bagi driver ojol, serta kebijakan toleransi dalam situasi tertentu, terutama di jam-jam sibuk atau kondisi yang memang sulit dihindari. Dengan begitu, konflik seperti motor ojol diangkut Dishub saat mengambil pesanan bisa diminimalkan, dan semua pihak bisa merasa dimengerti dan diperhatikan.

























hukum dikalahkan nurani. biadab dan zolim.