Semoga Allah selalu melindungi kita dan menjauhkan kita dari Riya. kalo bisa nggak perlu diposting karena tidak semua orang suka dengan pencapaian kita 🌸
2024/11/18 Diedit ke
... Baca selengkapnyaAku pribadi pernah banget ngerasain butuh pengakuan. Rasanya pengen semua orang tahu kalau aku juga bisa, aku juga punya pencapaian. Apalagi pas lagi berhasil capai sesuatu yang dulu cuma jadi doa. Tangan udah gatel mau posting, tapi hati juga berbisik, “Ini buat apa? Biar dipuji orang atau biar makin dekat sama Allah?”
Dari situ aku belajar pelan‑pelan untuk nanya ke diri sendiri: aku ini sebenarnya butuh pengakuan dari manusia, atau cukup pengakuan dari Allah saja? Kalau semua memang kehendak Allah, dari rezeki, kesempatan, sampai kekuatan buat berjuang, rasanya jadi malu kalau terlalu bangga di depan manusia. Aku mulai coba nikmatin pencapaian dalam diam, cukup aku dan Allah yang tahu.
Ternyata, nggak pamer itu bikin hati lebih lega. Privasi juga lebih kerasa terjaga. Bukan berarti kita nggak boleh senang atau nggak boleh bersyukur, tapi caranya yang diubah. Misalnya, dulu setiap ada hal kecil langsung upload di media sosial. Sekarang, aku pilih cukup cerita ke orang terdekat yang benar‑benar suportif, atau tulis di jurnal syukur pribadi. Rasanya lebih hangat dan nggak ada tekanan buat kelihatan sempurna di depan orang lain.
Ada momen aku hampir posting foto pencapaian besar. Caption sudah siap, filter sudah dipilih. Tapi tiba‑tiba kepikiran, “Kalau nanti banyak pujian, hatiku masih kuat nggak buat tetap ngerasa semua ini murni dari Allah?” Akhirnya aku batalin posting. Bukan karena pencapaiannya jelek, tapi karena aku takut riya dan takut hatiku berubah cuma demi validasi.
Pelan‑pelan aku juga belajar bedain antara apresiasi yang wajar dan benar‑benar butuh pengakuan. Kalau ada yang muji, aku usahakan jawab sederhana aja, misalnya, “Alhamdulillah, semua kehendak Allah.” Biar diri ini tetap ingat siapa pemilik segala kebaikan. Kalimat sederhana itu cukup bikin hati ngerasa kecil di hadapan Allah, tapi justru di situ letak ketenangan.
Jujur, keinginan untuk diakui itu manusiawi. Kita semua pengen dianggap, dihargai, dan diapresiasi. Tapi kalau sampai bergantung sama pengakuan manusia, hati jadi gampang goyah. Pas dipuji, senang berlebihan. Pas nggak ada yang respon, langsung down dan ngerasa nggak berharga. Padahal, ukuran nilai diri kita bukan di like, komen, atau view, tapi sejauh mana Allah ridha sama usaha kita.
Sekarang kalau lagi tergoda pengen posting pencapaian, aku coba tanya ke diri sendiri: kalau nggak ada satu pun yang lihat, aku masih bahagia nggak? Kalau jawabannya iya, berarti niatnya lebih bersih. Tapi kalau kebahagiaannya cuma karena dilihat orang, berarti aku masih butuh beresin hati. Dari situ aku belajar bahwa tidak perlu pengakuan dari manusia untuk merasa cukup. Cukup Allah yang tahu, cukup Allah yang menilai, karena semua kehendak Allah dari awal sampai akhir.