rindu yang tertinggal di tanah Suci
Kukira langkahku telah usai
saat kembali dari perjalanan suci,
bahwa semua kewajiban telah tertunaikan,
dan hati pun akan tenang tanpa janji.
Namun ternyata aku keliru—
bukan usai yang kutemui,
melainkan awal dari rindu
yang tumbuh semakin dalam di relung kalbu.
Makkah…
di antara desah doa dan putaran thawaf,
kutitipkan air mata yang luruh,
pada Ka’bah yang agung dan syahdu.
Madinah…
di bawah langit yang penuh kedamaian,
kurasakan sejuknya cinta Rasul,
menyentuh jiwa dengan ketenangan yang menenangkan.
Kini, setelah langkahku kembali ke bumi asal,
yang tertinggal justru bahagiaku.
Aromanya masih semerbak di ingatan,
ketenangannya bersemayam dalam kerinduan.
Semakin jauh jarak memisahkan,
semakin dekat hatiku tertambat.
Rindu itu tak pernah pudar,
justru kian mekar dan menguat.
Ya Allah,
jika dahulu aku datang sebagai tamu-Mu,
maka izinkan aku kembali suatu waktu—
menjadi hamba yang Engkau panggil penuh rindu.
Sebab aku telah mengerti kini,
perjalanan itu bukanlah akhir dari segalanya;
ia adalah awal dari cinta abadi,
yang menuntun jiwa untuk kembali ke Tanah Suci. ✨
Setelah melakukan perjalanan spiritual ke Makkah dan Madinah, saya merasakan betapa kuatnya ikatan hati yang tertinggal di sana. Kerinduan tidak hanya tentang tempat, tetapi juga tentang kedamaian dan cinta yang saya temukan selama beribadah di Tanah Suci. Setiap putaran thawaf dan setiap doa yang dipanjatkan mengajarkan saya arti kesabaran dan keikhlasan. Saya pun merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan membuka pintu hati untuk mencintai Allah lebih dalam. Puisi seperti ini sangat berharga karena mampu membantu kita mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan lewat kata-kata biasa. Saya sendiri sering mengingat kembali bait-bait puisi yang saya baca atau dengar setelah perjalanan, karena itu seolah menjadi pengingat akan janji dan harapan untuk kembali ke Tanah Suci suatu hari nanti. Bagi yang merindukan Makkah dan Madinah, berbagi puisi atau lirik sholawat rindu Madinah bisa menjadi cara yang indah untuk menjaga semangat dan rasa rindu tetap hidup. Selain itu, menulis puisi pribadi juga bisa menjadi refleksi diri yang memperkuat iman dan koneksi spiritual. Mengunjungi tempat-tempat suci ini membawa ketenangan luar biasa, dan rasa rindu yang tertinggal di hati justru menguatkan keinginan untuk terus memperbaiki diri dalam menjalankan ajaran Islam. Semoga kita semua bisa memetik hikmah dari perjalanan tersebut dan menjaga cinta kepada Allah selalu tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
