rindu yang tertinggal di tanah Suci
Kukira langkahku telah usai
saat kembali dari perjalanan suci,
bahwa semua kewajiban telah tertunaikan,
dan hati pun akan tenang tanpa janji.
Namun ternyata aku keliru—
bukan usai yang kutemui,
melainkan awal dari rindu
yang tumbuh semakin dalam di relung kalbu.
Makkah…
di antara desah doa dan putaran thawaf,
kutitipkan air mata yang luruh,
pada Ka’bah yang agung dan syahdu.
Madinah…
di bawah langit yang penuh kedamaian,
kurasakan sejuknya cinta Rasul,
menyentuh jiwa dengan ketenangan yang menenangkan.
Kini, setelah langkahku kembali ke bumi asal,
yang tertinggal justru bahagiaku.
Aromanya masih semerbak di ingatan,
ketenangannya bersemayam dalam kerinduan.
Semakin jauh jarak memisahkan,
semakin dekat hatiku tertambat.
Rindu itu tak pernah pudar,
justru kian mekar dan menguat.
Ya Allah,
jika dahulu aku datang sebagai tamu-Mu,
maka izinkan aku kembali suatu waktu—
menjadi hamba yang Engkau panggil penuh rindu.
Sebab aku telah mengerti kini,
perjalanan itu bukanlah akhir dari segalanya;
ia adalah awal dari cinta abadi,
yang menuntun jiwa untuk kembali ke Tanah Suci. ✨
















































