Berdasarkan analisis umum terhadap struktur penulisan novel fiksi remaja (teen fiction) atau romansa di Fizzo, situasi di mana judul novel adalah nama tokoh utama (Deandra Devantara) namun pemeran utama Devantara tersebut jarang muncul (lebih banyak menonjolkan peran utama Deandra dan tokoh lain/pendukung) secara teknis tidak sesuai dengan judulnya.
Berikut adalah poin-poin analisisnya:
Judul sebagai Identitas Utama: Judul "Deandra Devantara" menjanjikan fokus cerita pada karakter tersebut. Pembaca mengharapkan character development, konflik utama, dan sudut pandang (POV) yang berpusat pada Deandra Devantara.
Ketidaksesuaian Judul dan Isi: Jika Devantara jarang muncul dan penulis lebih fokus pada pemeran utama lain Deandra, hal ini sering membuat pembaca merasa judul tersebut clickbait atau menyesatkan. Tokoh "Devantara" akhirnya hanya menjadi pelengkap atau sekadar alasan cerita itu ada, bukan subjek cerita.
Dampak pada Pembaca: Hal ini biasanya memicu kritik dari pembaca karena narasi menjadi tidak konsisten. Pembaca datang untuk kisah "Deandra Devantara", namun mendapatkan cerita "tokoh lain cuma fokus Deandra".
Kesimpulan:
Jika penulis lebih mengutamakan kemunculan tokoh Peran Utama Deandra dan pendukung daripada pemeran utama (Devantara) yang namanya dijadikan judul, maka judul tersebut dianggap kurang sesuai atau tidak representatif dengan isi ceritanya.
... Baca selengkapnyaSebagai pembaca dan penikmat novel fiksi remaja, saya sering menemukan fenomena di mana judul sebuah novel yang menggunakan nama tokoh utama justru tidak mencerminkan isi cerita secara keseluruhan. Hal ini sangat terasa pada novel berjudul "Deandra Devantara". Dari pengalaman saya, ketika membaca novel dengan nama tokoh sebagai judul, saya berharap bisa mendalami karakter tersebut, mengikuti konflik dan perkembangan tokoh utama itu dengan jelas.
Namun, ketika tokoh yang namanya dijadikan judul malah jarang muncul dan cerita lebih banyak berfokus pada karakter lain, saya merasakan ada ketidaksesuaian antara ekspektasi dan kenyataan. Ini bisa membuat pembaca merasa sedikit kecewa atau bahkan bingung, karena mereka sudah membayangkan cerita akan berpusat pada tokoh utama tersebut.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa penting bagi penulis untuk memastikan bahwa judul mencerminkan isi cerita secara tepat. Jika tokoh yang namanya diambil sebagai judul ternyata hanya menjadi pelengkap, maka judul tersebut bisa dianggap membuat pembaca salah paham atau bahkan seperti clickbait. Dari sisi penulisan, ini juga menciptakan narasi yang tidak konsisten dan mempengaruhi kepuasan pembaca.
Sebagai penulis atau bahkan editor, sebaiknya dilakukan evaluasi dan penyesuaian judul agar sesuai dengan pemeran utama yang benar-benar mendapatkan porsi besar dalam cerita. Sebaliknya bagi pembaca, mengenali fenomena ini bisa membantu mengelola ekspektasi dan lebih memahami struktur cerita dalam novel fiksi remaja.
Kesimpulannya, judul yang representatif terhadap isi buku bukan hanya soal marketing, tapi juga soal kejujuran narasi dan kepuasan pembaca. Dari pengalaman pribadi, novel akan terasa lebih mengena jika judul dan isi cerita saling mendukung dan menjelaskan satu sama lain dengan jelas.