... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali lihat CV Prilly Latuconsina di LinkedIn dengan status "Open to Work", aku langsung mikir: wah, kalau artis sekelas Prilly aja serius ngerapihin profil dan CV-nya, masa kita yang budak korporat nggak? Dari situ aku mulai pelan-pelan ngulik, kira-kira apa yang bisa dicontoh dari cara Prilly menyusun CV dan profil LinkedIn-nya.
Hal pertama yang aku pelajari adalah soal tujuan karier. Di CV Prilly tertulis jelas posisi yang dia incar: Retail Sales, Store Promoter, Field Sales. Ini bikin recruiter langsung ngerti dia maunya apa. Dulu CV aku isinya generik banget, semua posisi di-apply, alhasil malah nggak fokus. Setelah aku tulis jelas job title yang aku tuju di bagian atas CV dan di headline LinkedIn, undangan interview mulai lebih relevan.
Yang kedua, tampilan CV itu penting. Bukan harus heboh, tapi rapi dan enak dibaca. Dari contoh CV ala Vina Muliana yang sering dibahas bareng kasus Prilly, aku belajar pakai layout yang simpel: ada ringkasan singkat, pengalaman kerja berurutan, pendidikan, keahlian, dan portofolio kalau ada. Aku juga pakai bullet points singkat untuk jelasin pencapaian, bukan cuma jobdesc. Misalnya: "Berhasil meningkatkan penjualan 30% dalam 3 bulan" daripada hanya "Bertanggung jawab atas penjualan".
Tips lain yang aku ambil dari fenomena CV Prilly Latuconsina adalah pentingnya experience di luar jabatan formal. Di penjelasan motivasinya, kelihatan kalau dia nggak gengsi nyebutin pengalaman yang mungkin buat orang lain keliatan sepele. Aku jadi berani masukin pengalaman freelance, magang singkat, sampai project volunteer, selama memang relevan dengan posisi yang aku incar.
Aku juga mulai serius belajar dari perusahaan tempat aku kerja. Kalau dulu cuma kerja sesuai SOP, sekarang aku lebih banyak ngobrol sama senior, cari tahu alur bisnis, dan catat hal-hal yang bisa jadi nilai jual di CV. Misal, terbiasa handle klien besar, atau punya pengalaman pakai tools tertentu. Hal-hal begini ternyata yang bikin CV keliatan lebih "gacor" di mata HR.
Selain itu, aku ikutan beberapa kursus online buat nambah skill, terus aku masukin di bagian sertifikasi. Bukan harus kursus mahal; kelas gratisan pun bisa, yang penting relevan. Dan jangan lupa manfaatin relasi: aku update LinkedIn, connect sama teman kuliah, ex-kolega, dosen, sampai recruiter. Kadang peluang kerja datang bukan dari job portal, tapi dari orang yang udah kenal kita duluan.
Jadi, dari hebohnya CV Prilly Latuconsina di LinkedIn, pelajaran buat aku adalah: jangan insecure, tapi jadikan itu pemicu buat upgrade diri. Rapihin CV, perjelas tujuan karier, optimasi profil LinkedIn, terus konsisten belajar dan bangun relasi. Pelan-pelan, tapi kerasa banget bedanya di respon HR dan peluang kerja yang datang.
ini cv yang pas jaman dl aku pake pas masih nyari kerjaan kak.. emang keren dan menarik buat dilihat ❤️🥰