Jumat, 26 Juli 1996
“Selamat datang di penerbangan ini, silakan kencangkan sabuk pengaman dan perhatikan tanda bebas asap rokok, kita akan lepas landas dalam lima menit. Saat berada pada ketinggian jelajah, kami akan menyajikan minuman untuk Anda. Waktu tempuhnya adalah satu jam tiga puluh lima menit. Kami harap perjalanan Anda menyenangkan.”
Setelah lepas landas dan berada pada ketinggian jelajah, dua orang pramugari bertubuh semampai berkeliling dengan salah satunya mendorong kereta makanan, dan satu lagi menyuguhkan makanan juga minuman. Sembari berjalan berkeliling keduanya sesekali ngobrol dengan suara lirih.
“Kamu habis dilamar, ya, Olla?” tanya Rita penasaran.
“Ah, ini baru tunangan saja kok, Ta, belum lamaran nikah. Kan aku baru setahun jadi pramugari, dia juga masih ikatan dinas.”
“Ikatan dinas?”
“Iya, tunanganku itu tentara, Ta.”
Rita tersenyum, ikut senang, ia memperhatikan wajah Olla yang berseri-seri terasa sekali sedang bahagia. Keduanya selesai berkeliling lalu kembali ke belakang pesawat. Olla meraih tas kecilnya lalu mengeluarkan foto dalam dompet di tas itu, memperlihatkannya ke Rita.
“Ini, Ta, tunanganku.”
Rita mengamati, kalau dari segi postur memang bagus karena ia tentara, pembinaan fisik pasti membuat tubuhnya terbentuk. Namun dari segi wajah, menurut penilaian Rita, ya tunangan Olla cukup manis. Namun, setahunya pria yang mendekati Olla itu banyak dan berwajah lebih tampan dari tunangan rekan seprofesinya itu. Ia jadi teringat pramugara yang bernama Johan yang selalu menitip salam untuk Olla melaluinya, Johan berwajah jauh lebih tampan, posturnya juga bagus karena
ia seorang pramugara.
“Trus kalau dia sudah nggak ikatan dinas, kalian akan
nikah gitu?”
Olla mengangkat bahu. “Belum tahu, dia sih maunya buru-buru.”
Rita terkekeh. “Iyalah dia maunya buru-buru, La! Kamu cantik, takut keburu diambil orang,” balasnya diiringi tawa ringan.
Olla balas tertawa kecil dengan pipi memerah. “Bisa aja kamu, Ta! Sebenarnya dia dulu kakak kelas aku waktu SMA, ya kita udah jadian lama sih, tapi jarang juga bertemu karena setelah lulus SMA dia daftar tentara, pendidikan, dan yaudah kita jarang bertemu, tetapi sebelum berangkat pendidikan, malamnya ia ngajak tunangan, orang tuanya datang ke rumah,” jelas Olla.
Rita melenggutkan dagunya beberapa kali. Ya tidak heran sih pikir Rita, tunangannya Olla itu juga pasti takut akan kehilangan gadis pujaannya sampai-sampai segera mengikat Olla dengan cincin secara resmi.
“Siapa namanya?”
“Mas Panji.”
~
“La, kamu punya sahabat dari SMA?”
Olla mengangguk. “Ada, namanya Irma. Dia itu sahabat terbaikku. Jika ada kehidupan kedua setelah ini, aku masih ingin bersahabat dengan Irma sekali lagi,” ucap Olla dengan mata berbinar. Dari ungkapan itu Rita tahu begitu karibnya persahabatan Olla dan Irma. Irma pastilah sahabat yang baik, tak seperti Yuli―temannya. Pesawat terbang melintasi angkasa di pagi yang dingin. Akan tetapi, ada yang aneh, semakin tinggi pesawat berada, semakin berkabut terasa.
“Sepertinya kita akan mendekati perairan Masalembo,” bisik Rita.
Kening Olla berkerut. Pesawat yang barusan transit di Surabaya itu menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Akan tetapi, ada keanehan, pesawat hanya berputar-putar di atas perairan Masalembo. Khawatir akan kehabisan bahan bakar, pilot memutuskan melakukan pendaratan darurat di sebuah pulau asing yang tak pernah mereka tahu ada dalam peta penerbangan ataupun peta wilayah.
**Buku Tentara Polisi**
Jumat, 27 Juli 2001
Pengatur lintas udara Bandara Soekarno, Pak Buyung, mengawasi pesawat dari meja kerjanya, segelas kopi hitam tak lupa tersedia di depannya. Sembari mengarahkanpenerbangan, tiba-tiba sesuatu tertangkap matanya di radar. Dengan bingung, Pak Buyung menatap sebuah titik penerbangan di radar pemantau yang muncul entah dari mana. Mulutnya ternganga, matanya terus fokus mengawasi.
“Pesawat misterius tiba-tiba muncul!”
Lanjut part 2
Judul: Ragam Kisah (Pesawat Hilang 1996)
abdinegara #pesawatjatuh #pesawat #pramugari #tentara #pasanganabdinegara #kbmapp😊😊baca #kbmapp












