“Pa, makan dulu.”
“Nggak usah. Aku pulang besok, ada urusan dinas.”
Mesya bergantian menatap suaminya yang sudah rapi dan wangi, kemudian menatap masakannya yang tak dijamah sama sekali. Mesya bukan wanita yang hobi masak, bahkan bisa dibilang ia tak suka kegiatan masak-memasak, tapi ia sadar tanggung jawabnya sebagai istri.
Lima belas tahun sudah ia membina rumah tangga dengan Franco, selama itu pula Mesya berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik meski di mata Franco semua yang dilakukan Mesya masih banyak kekurangan.
Standar istri sempurna bagi Franco tak dipenuhi oleh Mesya. Sejak awal pernikahan dulu, apa pun yang dilakukan Mesya selalu kurang di mata Franco, tidak bisa masak, tidak rapi, rumah berantakan, tidak melayani suami dengan baik. Tapi bagi Mesya, ia sudah berusaha semampunya, ia semakin lama merasa jika semua yang dilakukan dalam rumah tangganya sia-sia. Semisal dalam membereskan rumah, Mesya meluangkan waktu membereskan rumah yang nyaris setiap hari diberantakan ketiga anaknya, dibersihkannya meski badannya amat lelah setelah menjemput ketiga anaknya pulang sekolah di siang yang terik hingga kulitnya yang dulu terawat putih lama-kelamaan menjadi hitam terbakar matahari, hampir tiap hari. Berbeda saat ia masih belum menikah dulu, kulitnya bersih dan wangi karena banyak waktu ke salon.
Setelah rumah dirapikan pun, ketiga anaknya kembali memberantakan rumah, mainan di mana-mana, sampah permen atau pun kertas gambar yang berserakan dan apesnya bersamaan itu pula suaminya secara kebetulan pulang dari kantor.
“Berantakan banget, sih! Ngapain aja kamu seharian di rumah? Tidur!?” sindir suaminya dengan nada agak keras.
Relung hati Mesya sakit, tapi ia diam saja, malas bertengkar.
Kadang Mesya berandai-andai pada waktu yang cepat berlalu, ia ingat senangnya hidup kala ia remaja, saat ia kecil dan diperhatikan. Lalu teringat kembali pada tiga anaknya. Ia menghela, bukan tidak bersyukur, tapi ia hanya butuh dukungan.
Saat suaminya pulang, Mesya berusaha biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa, pura-pura tak mengetahui gelagat peng k h i a n a Tan suaminya. Kadang-kadang Mesya merasa harus mengalah, apalagi ia tak punya pekerjaan tetap, bagaimana menghidupi ketiga anak-anaknya kalau harus berpisah dengan suaminya yang juga satu-satunya sumber nafkah bagi keluarga kecil Mesya, tak hanya itu, dengan berpisah ia takut psikis anak-anaknya pun berdampak, ia takut anak-anak nantinya akan kehilangan perasaan kasih sayang dari kedua orang tua. Berat bagi Mesya untuk mengambil keputusan berpisah meski hatinya amat-amat pedih nan perih membayangkan suaminya tengah berada di pelukan wanita lain.
Selepas suaminya pergi, dengan sedih Mesya berjalan menuju kamar, menatap dirinya, menatap wajahnya yang layu karena usia ... karena lelah mengurus rumah tangga dan keluarganya.
Sejak dari dulu terbesit keinginan untuk ke salon, sekadar melepas lelah atau ganti suasana agar ia lebih semangat lagi menyongsong hari esok, tapi sulit sekali mendapatkan kesempatan itu karena tak ada pembantu, Mesya bingung harus menitipkan ketiga anaknya pada siapa, pada keluarga pun rasanya sungkan menitipkan jika alasannya karena ingin ke salon, ke suami? Franco mana mau betah menunggui ketiga anaknya yang bisa dibilang aktif. Pupus sudah hasrat ke salon, setiap lewat depan salon pun, Mesya hanya bisa mentap dan segera berlalu.
“Ya sudahlah, sudah laku juga, ngapain ke salon,” hiburnya untuk diri sendiri. Meski jauh di lubuk hatinya kadang terlintas, seandainya ia punya pembantu, ia jadi punya sedikit waktu untuk merawat diri.
Franco bukan tak mampu membiayai seorang pembantu, tapi Franco merasa daripada harus membayar lebih mending dilakukan sendiri.
**
“Lho, Ma, kok di sini?" Pertanyaan sambutan suaminya saat Mesya dan anak bungsunya tiba-tiba datang di kantor suaminya. Mesya mendapati gelagat Franco yang gugup dan tak tenang. Ada apa?
Bersambung
Judul: DRAMA
Dalam keseharian Mesya, rutinitas mengurus rumah dan anak-anak tak pernah mudah. Saya pernah merasakan hal serupa, di mana keinginan untuk menyegarkan diri di salon sering tertunda karena keterbatasan waktu dan tanggung jawab keluarga. Mesya yang tinggal di Tangerang ini sebenarnya sangat ingin meluangkan waktu untuk pergi ke salon sebagai bentuk self-care, namun kekhawatiran tentang menjaga anak dan situasi rumah menjadi penghalang utama. Meski suaminya, Franco, mampu membiayai pembantu, prinsip hidupnya membuat Mesya harus menjalankan semua sendiri, termasuk mengurus rumah tangga. Kadang itu membuat wanita seperti Mesya merasa terjebak dan kehilangan waktu untuk diri sendiri, yang sebenarnya penting untuk menjaga semangat dan kesehatan mental. Saya sarankan jika Anda juga menghadapi situasi serupa, mungkin bisa mulai mencari alternatif seperti berbagi tugas dengan pasangan atau mengatur jadwal singkat untuk perawatan di salon yang dekat dan bisa diandalkan. Salon di Tangerang sendiri cukup banyak pilihannya yang ramah keluarga dan menyediakan layanan yang cepat namun berkualitas, sehingga Mesya dan wanita lainnya bisa tetap merasa segar meskipun memiliki waktu yang terbatas. Selain itu, penting pula untuk mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan pada pasangan agar mendapat dukungan, karena hal itu sangat membantu menjaga keharmonisan rumah tangga dan kesejahteraan pribadi.
