Pasar Malam (Kemala)
”Aku tahu rahasia 5 tahun yang lalu.”
Empat orang prajurit mendapat surat tanpa pengirim yang isinya sama. Apa yang terjadi lima tahun lalu?
——
“Ampun, San … saya benar-benar tidak lihat apa-apa .…”
Suara Prada Yoga bergetar di belakang gudang yang gelap itu.
PLAK!
Tamparan keras membuat tubuhnya tersungkur ke tanah becek. Bibirnya pecah, tapi ia masih berusaha bangkit.
“Jangan pura-pura polos kamu, Yoga!” bentak Sertu Faris. “Kamu pikir aku nggak tahu kamu tadi lewat belakang semak itu?”
“Saya cuma lewat, San! Demi Allah, saya nggak lihat San Faris dengan Bu Marni .…”
Faris langsung mencengkeram kerah baju Yoga.
“Kalau sampai atasan tahu, habis aku! Dan kamu juga!”
Langkah sepatu mendekat.
Letda Zaldi muncul dari balik gelap, wajahnya tegang.
“Sudah beres?” tanyanya pendek.
“Belum, Ndan. Anak ini lihat sesuatu. Bukan cuma saya,” ujar Faris pelan, lalu menatap Zaldi penuh arti.
Yoga menggeleng cepat.
“Saya tidak lihat Komandan, Ndan! Sumpah!”
Zaldi menatap Yoga lama. Tatapannya bukan marah… tapi takut.
“Bram. Iqbal.”
Dua prajurit mendekat.
“Bawa dia. Bina baik-baik. Jangan sampai dia macam-macam.”
“Siap, Ndan.”
Yoga ditarik menjauh. Ia masih memohon.
“Kita satu barak, Bang … jangan .…”
Tapi malam itu, tidak ada yang mendengar.
Suara musik pasar malam di sebelah justru menutup semua jeritan.
⸻
Beberapa menit kemudian .…
“San … kayaknya dia nggak sadar .…”
“Bangunin!”
Tubuh Yoga terkulai lemas.
Faris memeriksa napasnya.
Wajahnya berubah pucat.
“Dia nggak gerak .…”
Hening.
Zaldi membuang rokoknya. Tangannya gemetar.
“Jangan bilang .…”
Faris menelan ludah.
“Sepertinya … sudah lewat, Ndan.”
Sunyi yang lebih mengerikan dari teriakan.
Karier. Pangkat. Masa depan.
Semua terasa runtuh dalam satu malam.
Tiba-tiba dari arah pasar malam terdengar teriakan.
Api membumbung tinggi. Salah satu wahana terbakar hebat.
Bram menatap Zaldi.
“Ndan … itu kesempatan.”
Zaldi terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan mengangguk.
“Cepat. Jangan ada yang tahu.”
⸻
Keesokan Harinya
“Mak, nanti gajian Yoga belikan Emak kasur baru ya ….” Suara itu masih terngiang di kepala Bu Tatik saat ia berjalan tertatih menjajakan pecel.
Rematiknya kambuh, tapi ia tetap tersenyum mengingat anaknya.
Tiba-tiba mobil dinas berhenti di depan rumahnya.
Hatinya langsung tidak enak.
Sertu Faris turun dengan wajah dibuat muram.
“Ibu Tatik?”
“Iya … anak saya kenapa?”
Faris menunduk.
“Semalam ada musibah kebakaran di dekat batalyon. Prada Yoga … tidak tertolong.”
Dunia Bu Tatik runtuh seketika.
Bakul pecelnya jatuh.
“Nggak mungkin … Yoga baru telepon kemarin .…”
Faris berlutut pura-pura menenangkan.
“Kami semua kehilangan, Bu. Yoga anak baik.”
Lalu ia berkata pelan. ”Nanti petinya datang. Tapi Ibu jangan buka … kondisinya sudah tidak layak dilihat.”
Bu Tatik menangis histeris.
Ia tidak tahu … anaknya tidak men ing gal karena kebakaran.
Dan Faris berdiri dengan wajah sendu yang dibuat-buat.
“Biaya semua saya tanggung, Bu. Ini ada sedikit bantuan .…”
Uang itu terasa dingin.
Sementara di kejauhan … api sudah padam.
Tapi kebenaran masih menyala.
——
Semua orang percaya Yoga korban kebakaran.
Semua orang … kecuali satu orang.
Judul: Pasar Malam (Kemala)
bunga_btp (KBM App)


















