... Baca selengkapnyaTerkadang ya, sedih itu datangnya bukan dari orang jauh, tapi justru dari orang yang tiap hari kita temui. Bisa dari pasangan, keluarga, bahkan anak sendiri. Awalnya aku kira cuma aku yang ngerasa gitu, sampai akhirnya aku cerita pelan‑pelan ke teman dan baca curhatan orang lain, ternyata banyak banget IRT yang juga ngerasa lelah secara batin.
Ada hari di mana aku udah capek seharian di rumah: beresin cucian, masak, beresin mainan anak, tapi tetap saja dibilang “kerjaan di rumah kan gampang, kok masih aja ngeluh?”. Di situ rasanya hati langsung jatuh. Terkadang datangnya sedih itu cuma dari satu kalimat, tapi bekasnya berhari‑hari.
Yang aku pelajari, kita boleh kok mengakui kalau kita capek. Capek bukan berarti kita nggak bersyukur. Aku biasanya kasih waktu buat diri sendiri: tarik napas dalam‑dalam, wudhu, lalu duduk sebentar di tempat yang tenang. Di momen itu aku pelan‑pelan baca doa “Rabbana afrigh ‘alaina shabran wa tawaffana muslimin”. Aku ulang‑ulang sambil berusaha ikhlas. Aneh tapi nyata, hati yang tadi sesak banget pelan‑pelan agak lega.
Aku juga mulai belajar ngobrol baik‑baik sama suami saat suasana lagi tenang. Bukan pas lagi marah atau capek. Aku bilang pelan, “Terkadang kata‑katamu itu bikin aku sedih, padahal mungkin maksudnya bercanda.” Nggak selalu langsung berubah, tapi setidaknya aku sudah mencoba menyampaikan. Menyimpan semuanya sendiri itu bikin hati makin penuh.
Hal lain yang bantu aku bertahan adalah punya “me time” kecil‑kecilan. Nggak harus mahal; kadang cuma dengan mandi agak lama, minum teh hangat sambil denger murottal, atau nulis di buku tentang perasaan yang lagi aku rasain. Dengan nulis, aku jadi lebih sadar, oh ternyata sumber sedihku ini, ini, dan ini. Dari situ aku bisa pelan‑pelan belajar menerima.
Kalau kamu juga lagi di fase yang sama, sering merasa dihargai hanya ketika semua pekerjaan beres, tapi nggak dianggap capek, kamu nggak sendirian. Kita sama‑sama belajar kuat, tapi juga jujur pada diri sendiri. Terkadang datangnya sedih itu ujian, tapi bisa jadi pintu kita untuk lebih dekat sama Allah dan lebih sayang sama diri sendiri. Yang penting, jangan pendam semua sendirian. Cerita ke Allah lewat doa, dan kalau bisa, pelan‑pelan belajar cerita ke orang yang kamu percaya.
masya'allah kak🥰