CEO PT Trans Continent Ismail Rasyid, membeli sebidang tanah di Gampong Ie Sueem, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.
Lokasi ini diproyeksikan menjadi tempat untuk menampung hasil kebun masyarakat sekitar untuk dibawa ke luar daerah, bahkan untuk ekspor.
Simak penjelasan Dr Ismail Rasyid, SE, MMTr, saat kami berkunjung ke lokasi, Jumat 1 Mei 2026.
Dalam upaya mendukung perekonomian lokal dan memperluas jangkauan pasar produk pertanian Aceh, pembangunan gudang yang terintegrasi sangat krusial. Berdasarkan pengalaman beberapa pengusaha di sektor agribisnis, memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai tidak hanya membantu menjaga kualitas hasil panen tetapi juga memperkuat posisi tawar petani di pasar regional dan internasional. Saya pernah mengamati bagaimana pengelolaan gudang yang baik di kawasan agraris lain mampu meningkatkan nilai tambah produk seperti pala dan cengkeh yang disebutkan dalam wawancara dengan Ismail Rasyid. Produk ini tidak hanya dikonsumsi di dalam negeri, tapi juga diekspor ke negara seperti Pakistan dan India. Trik utama adalah pengelolaan yang terintegrasi yang meliputi penyimpanan, pemrosesan, dan pemasaran sehingga rantai nilai menjadi lebih efisien. Selain itu, pembangunan gudang dan fasilitas pendukung di Ie Sueem diharapkan menjadi pusat distribusi yang mampu menampung volume besar hasil kebun dari masyarakat dan mengatasi fluktuasi pasar yang kerap terjadi. Adanya pusat seperti ini bisa membantu menjaga stabilitas harga dan kualitas produk pertanian yang dihasilkan, sekaligus menciptakan peluang kerja dan memberdayakan UMKM di wilayah Aceh Besar. Dari sudut pandang masyarakat lokal, keberadaan gudang ini juga memberikan dampak positif berupa peningkatan akses pasar serta kemampuan untuk bersaing dengan produk impor. Hal ini tentunya memerlukan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas petani guna mewujudkan sistem pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan. Secara pribadi, saya melihat bahwa langkah PT Trans Continent tidak hanya sebagai upaya bisnis, tapi juga sebagai kontribusi nyata untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh. Dengan pola pengembangan yang berkelanjutan, potensi komoditas Aceh seperti pala dan cengkeh bisa kembali menjadi primadona di pasar ekspor. Tantangan utama tetap pada pengelolaan yang disiplin dan inovasi produk agar bisa menggaet pasar global yang semakin kompetitif.
