Indahnya toleransi
Menghadiri tasyakuran haji atau walimatul safar di rumah Dr Hasan Basri M Nur, di Gampong Tanjong, Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu 9 Mei 2026.
Tasyakuran haji adalah tradisi di wilayah Nusantara, sebagai wujud syukur atas karunia beribadah haji, baik sebelum berangkat (Walimatussafar) maupun setelah pulang (Walimatul Naqi'ah).
Acara ini bertujuan memohon doa restu, silaturahmi, sedekah, dan berbagi kebahagiaan dengan tetangga serta keluarga.
Ada pemandangan menarik di acara walimatul safar di rumah Dr. Hasan Basri hari ini.
Yaitu kehadiran beberapa tokoh lintas agama, seperti Yuswar dan Baron F Pandiangan, serta beberapa pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh.
Yuswar adalah tokoh masyarakat Tionghoa sekaligus Buddha dan perwakilan dari Vihara Dharma Bakti yang aktif dalam dialog lintas agama.
Dalam kesaksiannya, Yuswar menyebutkan bahwa keluarganya sudah tinggal di Banda Aceh selama lima generasi sejak tahun 1910 dan merasakan situasi yang aman.
Ia sering menyampaikan bahwa kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Aceh sangat baik dan terjaga. Yuswar aktif dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pertemuan FKUB tingkat nasional di Aceh.
Sementara Baron Ferryson Pandiangan, SAg MTh, adalah tokoh agama Katolik dan pengurus aktif di FKUB Aceh.
Sebagai Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Aceh, ia sering menyuarakan harmoni umat beragama, menegaskan toleransi di Aceh, dan menepis tudingan Aceh intoleran.
Baron Aktif dalam rapat FKUB, termasuk mendorong suasana aman saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta mengajak umat menghormati bulan Ramadhan.
Kehadiran para tokoh lintas agama pada acara walimatul safar di rumah Dr. Hasan Basri ini, tak terlepas dari keterlibatannya dalam organisasi FKUB Aceh. Hasan Basri merupakan dosen Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Sebagai seseorang yang pernah menghadiri berbagai acara keagamaan di Aceh, saya menyaksikan langsung bagaimana toleransi antarumat beragama di daerah ini benar-benar hidup dan terjaga dengan baik. Tasyakuran haji atau walimatul safar bukan hanya perayaan pribadi atau keluarga, tetapi juga momen penting yang dihadiri oleh berbagai tokoh dari agama dan latar belakang berbeda, seperti yang terjadi di rumah Dr. Hasan Basri. Kehadiran tokoh lintas agama seperti Yuswar, mewakili komunitas Buddha Tionghoa, serta Baron F Pandiangan, seorang tokoh Katolik aktif dalam FKUB, adalah bukti nyata bahwa Aceh menjunjung tinggi semangat kerukunan. Dialog dan kerja sama yang berlangsung di FKUB Aceh juga memperkuat rasa saling menghormati dan menciptakan suasana yang damai, bahkan selama periode yang sensitif seperti Natal, Tahun Baru, dan Ramadan. Menurut pengalaman saya, sikap terbuka seperti ini diperlukan agar keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber konflik. Saya pribadi terinspirasi oleh cara para tokoh ini menunjukkan, bahwa walaupun berbeda keyakinan, kita tetap bisa saling mendukung dan menjaga keharmonisan bersama. Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik dan berbagi kebahagiaan dengan tetangga tanpa memandang latar belakang agama. Acara seperti tasyakuran haji juga mengajarkan pentingnya mensyukuri keberkahan yang diterima, sembari memperkuat tali persaudaraan. Melalui sedekah dan doa bersama, saling mendoakan kebaikan menjadi satu langkah nyata menjaga keutuhan sosial. Saya juga percaya, cerita-cerita semacam ini harus terus disebarkan agar masyarakat luas semakin memahami dan mengapresiasi nilai-nilai toleransi yang ada di Aceh. Ini adalah contoh nyata bagaimana budaya Nusantara memadukan tradisi keagamaan dengan harmoni sosial yang berdampak positif bagi seluruh komunitas.
























