PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau disingkat PT PEMA adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang sahamnya 100% dimiliki oleh Pemerintah Aceh.
Perusahaan ini dibentuk untuk meningkatkan pembangunan, pertumbuhan ekonomi daerah, serta menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan berbagai sektor bisnis.
Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, menyampaikan berbagai capaian dan program strategis perusahaan daerah tersebut saat melakukan kunjungan silaturahmi ke Harian Serambi Indonesia, Jumat (5/6/2026).
Dalam kunjungan tersebut ia didampingi oleh Naufal Natsir Mahmud, Direktur Pengembangan Bisnis, Reza Hendra Putra, Sekretaris Perusahaan, Almaiyani Yusna, Manajer Migas, Minerba, dan EBTKE, M Iqbal Faresi, Spv Migas dan EBTKE dan Cut Nanda Risma Putri, Humas.
Baca selengkapnya di Serambinews.com dan Harian Serambi Indonesia edisi Sabtu 6 Juni 2026.
Sebagai seseorang yang aktif mengikuti perkembangan bisnis daerah, saya sangat terinspirasi dengan langkah-langkah strategis yang dilakukan PT PEMA dalam mengembangkan Aceh. Menurut pengalaman saya, BUMD seperti PT PEMA memainkan peranan krusial dalam memacu pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemanfaatan potensi sumber daya alam dan sektor unggulan. Dari kunjungan dan wawancara Direktur Utama PT PEMA yang saya simak, terlihat bahwa perusahaan ini berfokus mengembangkan berbagai sektor seperti migas, minerba, dan energi terbarukan (EBTKE). Tidak hanya itu, PT PEMA juga berhasil mengekspor kopi Gayo ke Amerika dengan volume cukup besar yakni sekitar 38 ton, yang menurut saya adalah bukti nyata bahwa produk lokal Aceh mampu menembus pasar internasional dengan kualitas dan pengelolaan yang baik. Selain itu, pembangunan jaringan fiber optik sepanjang 400 km yang dipercayakan ke PT PEMA oleh Telkom Akses memberikan dampak positif besar dalam meningkatkan konektivitas digital di Aceh. Saya percaya kehadiran infrastruktur digital ini akan membuka lebih banyak peluang usaha dan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang kini semakin bergantung pada teknologi. PT PEMA juga mempersiapkan fasilitas cold storage di Lampulo yang mendukung pengembangan sektor perikanan. Dari pengamatan saya, keberadaan fasilitas ini sangat berpotensi untuk meningkatkan value chain produk perikanan Aceh, sehingga tidak hanya ikan segar yang dipasarkan, tetapi juga produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Pengalaman yang saya alami mengonfirmasi bahwa keberadaan PT PEMA sebagai BUMD yang dikelola oleh kalangan muda dan enerjik mampu menjadi motor penggerak perubahan positif untuk pembangunan Aceh. Semangat kerja keras dan inovasi yang ditunjukkan PT PEMA memberikan motivasi sekaligus keyakinan bahwa pengembangan potensi daerah dapat berjalan cepat dan berkelanjutan. Saya merekomendasikan agar masyarakat Aceh dan para pengusaha lokal terus mendukung dan memanfaatkan program-program PT PEMA agar manfaat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara luas, sekaligus mendorong keberhasilan investasi di Aceh secara lebih optimal.






























