Makan halua ek mie pada acara ba tanda anak kumuen, di gampong Masjid Aree, Kampung Aree, Delima, Pidie, 27 Juni 2026.
Halwa dengan bahan baku utama beras dan manisan yang dibungkus on geurusong (daun pisang kering) ini, sangat populer pada musim panen padi di Aceh, terutama di Kabupaten Pidie.
Halwa merupakan salah satu kuliner tradisional yang tak hanya nikmat disantap, tapi juga sarat akan nilai budaya di Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie. Dalam pengalaman saya mengikuti acara ba tanda anak kumuen di Kampung Aree, saya berkesempatan mencicipi Halwa yang dibuat dengan bahan utama beras dan manisan serta dibungkus oleh daun pisang kering yang disebut geurusong. Rasanya manis alami dan teksturnya lembut, memberikan sensasi berbeda dibandingkan dengan cemilan lain yang biasa saya temui. Keunikan Halwa ini terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional turun-temurun, mulai dari pemilihan beras hingga pengemasan menggunakan daun pisang kering yang memberikan aroma khas dan menjaga kelembapan Halwa. Selain sebagai hidangan khas saat musim panen padi, Halwa juga menjadi simbol keramahan dan kebersamaan masyarakat Pidie ketika berkumpul dalam berbagai acara adat. Selain rasanya yang memanjakan lidah, Halwa ini juga kaya akan nilai budaya dan sejarah yang melekat pada komunitas Aceh. Dari pengalaman pribadi, mencicipi Halwa sambil menikmati suasana tradisional di gampong Masjid Aree membuat saya merasa lebih dekat dengan warisan budaya setempat. Momen ini juga memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat menyatukan komunitas dan memperkuat identitas budaya. Bagi pengunjung atau pecinta wisata kuliner yang ingin merasakan autentisitas Aceh, mencicipi Halwa saat musim panen padi di Pidie sangat saya rekomendasikan. Selain mendapatkan cita rasa khas, Anda juga dapat belajar lebih dalam tentang proses pembuatan dan filosofi yang melandasi tradisi ini. Halwa bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga jasad budaya yang patut dilestarikan dan diapresiasi.














