2025 penuh duka

Lhokseumawe
2025/12/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKalau jujur, 2025 itu kayak rangkaian adegan sedih yang nggak habis‑habis. Dari kehilangan saudara, kehilangan calon buah hati yang udah lama banget dinanti, sampai musibah banjir yang bikin rumah dan lingkungan berubah total. Rasanya kayak dimarahin terus sama hidup, padahal kita nggak tahu salahnya di mana. Ada satu momen yang paling kebayang sampai sekarang: berdiri di area pemakaman, tanah masih basah, suara orang baca doa pelan, dan di kepala cuma ada pertanyaan, "Kenapa harus aku lagi?". Di bulan lain, aku harus lihat hasil USG yang tadinya bikin bahagia malah jadi sumber air mata. Di akhir tahun, banjir besar di Aceh benar‑benar bikin aku merasa seperti ditenggelamkan dua kali: secara fisik dan secara batin. Di tengah semua itu, aku juga sering ngerasa kayak dimarahin sama keadaan, kayak orang lain hidupnya normal, tapi aku terus‑terusan diuji. Kadang jadi pengin marah balik, pengin protes, tapi yang keluar cuma tangis. Dan jujur, ada masa di mana aku cuma pengin ngurung diri di kamar, nggak mau ketemu siapa pun, karena capek jelasin, "Aku nggak apa‑apa" padahal jelas lagi hancur. Pelan‑pelan aku belajar nerima, bukan karena aku kuat, tapi karena ternyata nggak ada pilihan lain selain jalan terus. Aku mulai nulis apa aja yang aku rasakan, termasuk tentang 2025 yang penuh ujian ini. Dari situ aku sadar, ternyata dengan cerita, beban di dada sedikit lebih ringan. Ada yang baca dan bilang, "Aku juga pernah di posisi itu" – dan rasanya nggak seterasing sebelumnya. Sekarang, menjelang dan menyambut 2026, aku nggak berani minta hidup yang sempurna. Aku cuma minta hati yang lebih lapang, pikiran yang lebih tenang, dan orang‑orang sekitar yang tetap sehat. Kalau nanti masih ada ujian, semoga aku sudah sedikit lebih siap. Kalau tahun lalu penuh duka, semoga tahun ini ada meski sedikit saja, alasan untuk tersenyum tanpa pura‑pura. Buat kamu yang mungkin lagi merasa hidup seolah dimarahin terus, entah oleh keadaan, orang lain, atau bahkan oleh dirimu sendiri, aku cuma mau bilang: perasaan itu valid. Nangis nggak bikin kamu lemah, berhenti sebentar nggak bikin kamu gagal. Kita mungkin nggak bisa milih ujian apa yang datang, tapi kita bisa pelan‑pelan belajar milih cara buat berdamai. Semoga 2026 (dan seterusnya) jadi tahun yang lebih lembut buat kita semua. Kalau kamu lagi di fase tersulitmu, ingat: kamu nggak sendirian, dan nggak apa‑apa banget kalau sekarang kamu belum kuat. Yang penting, kamu masih bertahan sampai hari ini.