setelah banyak belajar di dunia affiliate, aku mulai memahami bahwa konten yg kita buat itu berharga dalam berbagai sisi. Nah, konten kita itu ternyata harus dihargai dengan baik dan minimal jangan sampai terkecoh sama brand-brand "nackal" yg cuma cari keuntungan pribadi 🤏
Selain hindari 3 hal diatas, kalian bisa juga lakukan beberapa hal ini:
1. Minta kontak/brief/SOW brand, baca dengan teliti sebelum bertanya
2. Jangan malu untuk mencari tau informasi dengan sejelas mungkin kepada Brand setelah membaca kontrak/brief/SOW, biar gak ada salah faham ✅️
3. Jangan ragu tawarkan Rate Card untuk kerjasama, dan buka juga peluang untuk diskusi lebih lanjut tentang Rate Card yg ditawarkan
4. Catat timeline, SOW, brief, kontrak dll secara rapi untuk memudahkan proses kerjasama, jangan sampai asal di catat di kepala ya, nnti repot sendiri 😋
Nah, kira-kira hal apa lagi yg bisa dilakukan agar gak kena scam saat kerjasama brand? 😊
... Baca selengkapnyaSebagai IRT yang baru beberapa bulan terjun ke dunia affiliate dan kerjasama brand, aku juga sempat ngalamin fase "asal terima" kerja sama. Awalnya aku pikir yang penting ada job, ada produk, selesai. Tapi makin lama, aku sadar kalau cara pikir kayak gitu bikin kita rawan banget kena tipu dan konten kita nggak dihargai.
Sekarang setiap ada brand yang ajak kerjasama, aku selalu minta semuanya serba jelas sejak awal. Mulai dari brief, SOW (scope of work), sampai durasi pemakaian konten. Di awal dulu aku sering bingung bedain endorse biasa dengan owning content. Ternyata ini penting banget. Kalau endorse biasanya konten cuma dipakai di akun brand dalam periode tertentu. Tapi kalau sudah masuk ranah owning content, artinya brand bisa pakai konten kita bebas, bahkan untuk ads berbulan-bulan. Nah, di sini kita wajib minta biaya tambahan, jangan disamain dengan fee endorse biasa.
Untuk urusan data pribadi, aku juga pernah hampir kecolongan. Ada brand yang minta kirim KTP dan data lengkap padahal belum ada deal job, bahkan kontrak pun belum jelas. Sekarang aku selalu pakai watermark besar di atas foto KTP kalau memang harus kirim, dan itu pun cuma setelah kerja sama benar-benar fix dan via PIC resmi. Jangan ragu buat bilang: "Aku baru bisa kirim data setelah kontrak dan detail kerja jelas ya, Kak." Brand yang profesional biasanya paham dan menghargai hal ini.
Satu lagi yang sering banget kejadian: ongkir ditanggung KOL. Dulu aku mikir, ya udahlah, ongkir paling cuma belasan ribu. Tapi setelah dihitung-hitung, kalau job-nya banyak dan semua ongkir aku yang nanggung, lama-lama malah tekor. Sekarang prinsipku: ongkir itu bagian dari biaya promosi brand, jadi seharusnya ditanggung brand. Kalau ada yang masih maksa KOL bayar ongkir, aku lebih baik skip, karena biasanya ada red flag lain di belakangnya.
Supaya lebih rapi, aku juga mulai bikin catatan kecil untuk setiap kerja sama: nama brand, PIC, timeline upload, jenis kerja sama (endorse/owning content), fee, dan syarat khusus. Catatan ini ngebantu banget kalau di tengah jalan ada miskom atau kalau mau evaluasi kerja sama tiga bulanan ke depan, kira-kira brand mana yang worth untuk diajak kerja sama lagi.
Intinya, sebagai IRT atau kreator pemula, jangan merasa rendah diri duluan. Konten yang kita buat itu butuh waktu, tenaga, dan kreativitas. Wajar kalau kita juga pengin dihargai dengan pantas. Pelan-pelan aja, sambil belajar baca kontrak, berani nego rate card, dan berani bilang "tidak" kalau merasa kurang aman atau kurang jelas. Lebih baik kehilangan satu job, daripada kehilangan data pribadi atau rugi waktu dan tenaga untuk brand yang nggak profesional.
makasih infonya