Cegilnya Pak Mayor
Sore itu Mayor Arga memilih duduk di bangku paling ujung taman kota. Tempat itu teduh di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga. Di sampingnya ada botol teh dingin dan koran sore yang belum dibuka. Setelah seharian di kantor Kodim, ia hanya ingin duduk diam sepuluh menit sebelum pulang.
Taman sedang ramai-ramainya. Anak-anak bermain bola di lapangan kecil, beberapa pasangan duduk di bangku, dan di warung angkringan seberang jalan terdengar musik dangdut pelan.
Arga baru saja meneguk setengah botol teh ketika suara ribut memecah suasana.
Di jalur pejalan kaki, seorang gadis muda berdiri tegak, menghadapi seorang pemuda yang mencoba mendekat.
"Aku udah bilang, kita selesai, Rio," ucap seorang gadis yang terdengar tegas.
"Aku nyesel, Ran," sahut si lelaki. "Kasih aku kesempatan lagi. Kita bisa mulai dari awal."
"Kesempatan itu habis minggu lalu. Dan aku nggak mau buang-buang waktu lagi!"
Arga berniat memalingkan pandangan. Drama seperti ini bukan urusannya. Tapi tatapannya kebetulan berpapasan dengan mata si gadis. Dan entah kenapa, gadis itu melangkah cepat ke arahnya.
Sebelum Arga sempat bangkit atau menghindar, tangannya sudah ditarik. Gadis itu berdiri di sisinya, merapat seperti sudah kenal lama.
"Ini calon suamiku," ucap gadis itu mantap.
Arga membeku, ada yang hangat menempel di lengannya. Rasanya lembut dan empuk, sementara si lelaki memandanginya dari ujung kepala sampai ujung sepatu.
"Calon suami? Dia?" Nada suara si lelaki penuh tidak percaya. "Dia kan udah ...."
"Empat puluh," potong Arga datar, meski tidak paham kenapa ia spontan menjawab.
Rio melongo. "Bapak, bener ini calon suami Rani?"
Arga menatap Rani sekilas, mata gadis itu memberi isyarat jelas, tolong ikutin saja.
"Iya," jawab Arga akhirnya. "Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Ya ... dia masih kuliah, Pak. Umurnya baru sembilan belas. Masa iya mau nikah sama orang yang umurnya dua kali lipatnya?" Rio mengangkat alis, nadanya menantang.
Arga menarik napas. "Kalau dua-duanya mau, umur bukan masalah. Lagi pula, saya bukan orang yang suka main-main."
Rani menambahkan dengan nada manis yang dibuat-buat, "Makanya aku pilih dia. Beda sama kamu, Rio!"
Rio terdiam, matanya bergantian menatap keduanya.
Arga bisa merasakan jemari Rani menggenggam lengannya lebih erat, entah untuk meyakinkan Rio, atau menegaskan agar ia tidak lari dari peran mendadak ini. Dan tubuh Rani yang hangat di lengannya membuat gemuruh jantungnya tidak keruan. Bisa-bisanya gadis asing yang tak dikenalnya bersikap begitu rupa.
Dalam hati, Arga mende sah. Ia tidak tahu siapa gadis ini, tapi tiba-tiba ia menjadi bagian dari kisah cinta gadis itu yang berantakan. Dan entah kenapa, ia memilih untuk tidak membantah.
Rio memandangi lekat Arga dan Rani beberapa detik lagi, lalu mendengus.
"Ya sudah, kalau itu maumu, Ran. Jangan nyesel!" ujar Rio singkat sebelum berbalik dan pergi dengan langkah lebar.
Begitu punggung Rio menghilang di balik pepohonan, genggaman Rani langsung terlepas dari lengan Arga. Ia menghela napas lega, lalu menatap Arga dengan senyum lebar.
"Terima kasih sudah berkenan kerja sama, Om, eh, siapa ya namanya?"
"Arga," jawab Arga pendek. Ia memutar botol teh di tangannya, mencoba fokus ke benda itu ketimbang ke penampilan gadis di depannya.
Baru sekarang Arga benar-benar memperhatikan.
Rani mengenakan blus tanpa lengan berwarna merah marun yang agak rendah di bagian da da, dipadukan dengan celana hitam selutut. Kulitnya cerah, rambutnya diikat setengah sehingga sebagian jatuh di bahu. Bukan tipe berpakaian vulgar, tapi cukup terbuka untuk membuat lelaki seusianya sedikit tidak nyaman. Ukuran aset berharga Rani yang tadi menempel empuk di lengan Arga tidak bisa dibilang kecil, justru besar, bulat dan membuat sang Mayor resah.
"Mayor Arga?" tanya Rani, melihat potongan rambut cepak dan sikap tegapnya.
Arga mengangguk. "Dari mana tahu saya mayor?"
"Tuh, bajunya mirip Mayor Tedy asistennya RI 1. Jadi aku simpulkan kalau Om itu Mayor. Tapi bener kan Om seorang Mayor?"
Arga tersenyum tipis, lalu memalingkan pandangan lagi. Ia merasa tenggorokannya kering, bukan hanya karena teh dingin yang tinggal separuh, tapi juga karena jarak mereka terlalu dekat. Gadis ini, muda sekali. Dan menarik. Bahaya kalau pikirannya melenceng.
"Maaf ya, Om. Aku cuma panik. Nggak nyangka cowok aku bakal muncul lagi setelah selingkuh."
"Dan kamu pikir pura-pura jadi tunangan dengan orang asing itu ide bagus?" Arga mengangkat alis.
Rani mengangkat bahu, lalu tersenyum nakal. "Ternyata lumayan efektif, kan?"
Arga tidak menjawab. Ia berdiri, meraih jaketnya, dan bersiap pergi.
"Kalau begitu, semoga masalahmu lekas selesai," pungkas Arga.
Rani melangkah bersamaan dengan Arga, seperti tidak ingin dilepaskan begitu saja.
"Om, tunggu. Mungkin aku bakal butuh bantuan 'calon suami' lagi."
Arga menoleh sekilas. Senyum Rani tipis, matanya menyiratkan sesuatu yang Arga tidak bisa baca. Dan untuk alasan yang belum ia mengerti, ia tidak langsung menolak.
Arga baru saja akan melangkah pergi ketika Rani menoleh sekilas ke arah pepohonan di belakang Rio tadi menghilang.
Tatapan matanya menyipit. "Dasar licik," gumam Rani pelan.
Arga mengerutkan kening. "Apa?"
"Mantan cowokku belum pergi, Om." Rani melirik ke arah pohon besar di tepi jalur pejalan kaki. "Ngumpet di sana, pura-pura nggak ada. Padahal nguping," bisik Rani.
Arga menoleh sekilas. Benar saja, ada bayangan tubuh di balik batang pohon. Meski hanya terlihat samar, gestur itu jelas milik orang yang sedang mengintai.
Tanpa banyak bicara, Rani kembali merapat. Tapi kali ini ia tidak sekadar memegang lengan Arga, ia menempel lebih dekat.
Gerakan itu membuat lengan Arga bersentuhan dengan bagian tubuh Rani yang membuat napasnya tercekat sepersekian detik.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menatap lurus ke depan, berusaha seakan-akan tidak ada yang aneh. Sementara di kepalanya, alarm disiplin tentara sudah berbunyi. Fokus, Arga. Jangan macam-macam.
Rani tetap santai. Nada suaranya tenang, tapi matanya waspada.
"Om, bawa kendaraan, nggak?"
"Motor," jawab Arga singkat.
"Bagus. Ayo, pura-pura ajak aku pulang!"
Arga menatapnya sekilas. "Pulang ke mana?"
"Pokoknya jauh dari sini. Biar dia lihat kita pergi bareng."
Rani melangkah serata tetap menggandeng Arga, kali ini langkahnya cepat. Arga membiarkan saja, meski pikirannya campur aduk. Ia masih belum tahu kenapa ia harus ikut permainan gadis yang bahkan baru ia kenal lima menit lalu. Tapi entah kenapa, kaki dan tangannya bergerak mengikuti saja.
Mereka melewati jalur parkir, dan Arga mengarahkan langkah ke motor trail hitam yang ia parkirkan di bawah pohon ketapang. Rani tersenyum singkat.
"Wih, keren juga tunggangannya."
Arga tak menyahut dia hanya menyalakan mesin.
"Aku cuma bawa satu helm."
Rani mengangkat bahu. "Nggak apa-apa. Yang penting cepat pergi."
Dengan sedikit ragu, Arga menunggu Rani naik di belakang. Saat ia merasakan kedua tangan gadis itu melingkar di pinggangnya, ia sadar sore ini akan berakhir jauh lebih rumit dari yang ia rencanakan. Tubuh Rani menempel sempurna di punggungnya.
Begitu motor melaju keluar dari area taman, Arga melirik spion. Ia melihatnya, mobil sedan abu-abu yang tadi dipakai Rio, bergerak perlahan beberapa meter di belakang.
"Dia mengikuti kita," ujar Arga datar.
"Makanya aku bilang, harus bikin dia yakin." Rani merapatkan tubuhnya. Kali ini, pelukannya lebih erat.
Arga mencoba untuk tetap fokus ke jalan. Tapi itu sulit ketika ia bisa merasakan tubuh Rani yang menempel di punggungnya setiap kali motor bergetar.
Ya Tuhan, ini ujian apa cobaan? pikir Arga.
"Kita ke mana?" tanya Arga sambil memelankan motor di lampu merah.
"Kemana aja. Ke mal bisa, kafe juga oke. Yang penting dia lihat kita berdua terus."
Arga menghela napas. "Kamu tahu ini agak gila, kan?"
Rani tertawa kecil di telinganya. "Agak? Ini memang gila."
Lampu hijau menyala, Arga memutar gas lagi. Rio masih mengikuti dari jarak aman. Rani sedikit memiringkan kepala, suaranya terdengar jelas meski tertiup angin.
"Kalau aku bilang mau makan berdua, Pak Mayor sanggup?"
Arga melihat kaca spion lagi sebelum menjawab. "Sanggup, sih. Tapi nanti kamu yang bayar."
Rani terkekeh. "Santai aja, Om. Aku yang traktir. Anggap aja bayaran karena sudah jadi calon suami dadakan."
Arga tak bisa menahan senyum tipisnya. Dalam hati ia tahu sore ini sudah lepas kendali dari rencana awalnya. Yang awalnya hanya ingin duduk sebentar di taman, sekarang ia malah mengendarai motor seraya membiarkan gadis sembilan belas tahun memeluk perutnya, dan membiarkan mantan gadis itu mengikutinya dari belakang.
Dan entah kenapa, Arga tidak berniat mengerem.
🫶🫶
Baca selengkapnya di aplikasi KBM
Judul : Cegilnya Pak Mayor
Penulis : Cedar Karamy



























































🥰🥰