... Baca selengkapnyaJalani, nikmati, syukuri itu kedengarannya simpel, tapi prakteknya kadang berat banget. Aku sendiri pernah ada di fase yang bahkan buat senyum aja rasanya capek. Dari situ aku pelan-pelan belajar kalau "jalani prosesnya, nikmati hasilnya, syukuri" itu bukan kalimat manis doang, tapi cara buat bertahan.
Buat aku, jalani prosesnya itu artinya nerima dulu kalau hidup nggak selalu sesuai rencana. Ada hari di mana doa rasanya nggak kedengeran, masalah datang barengan, dan hati nggak tenang. Di momen kayak gitu, aku cuma bisa ngomong pelan: "Tuhan, kalau senyum aja berat buatku, tolong kasih tenang di hatiku." Kadang jawabannya bukan berupa keajaiban besar, tapi cuma rasa lega sedikit demi sedikit.
Nikmati hasilnya juga nggak selalu tentang hal besar. Dulu aku ngerasa cuma boleh bangga kalau berhasil hal yang wow. Tapi sekarang, bisa bangun pagi tanpa nangis, bisa selesain kerjaan walau hati lagi berantakan, atau bisa ketawa sedikit sama teman, itu juga termasuk "hasil" yang layak dinikmati. Kayak saat mentari lagi panas banget nyinarin hidup kita, Tuhan kadang ngasih awan kecil berupa orang baik, hiburan sederhana, atau waktu istirahat sebentar.
Syukuri, buatku, bukan berarti pura-pura nggak apa-apa. Bersyukur justru seringnya aku lakuin sambil nangis. Aku belajar bilang: "Tuhan, aku masih takut, masih sedih, tapi aku bersyukur masih Kauberi kesempatan buat coba lagi hari ini." Dari situ aku merasa lebih tenang, kayak diingatkan kalau aku nggak jalan sendirian.
Kalimat jalani prosesnya nikmati hasilnya syukuri sekarang jadi pengingat di kepala setiap kali hidup lagi berat. Kalau kamu lagi di posisi yang sama, mungkin kamu bisa mulai dari hal kecil: tulis doa pendek di buku catatan, tempel kutipan di kamar, atau jadikan kata-kata itu sebagai caption di medsos. Pelan-pelan, hati yang gelisah bisa sedikit lebih tenang, dan kita bisa merasa lebih dekat sama Tuhan yang selalu jaga, bahkan saat kita merasa sendirian.