Kemana tempat rame, dia pasti pengen kesana.. Sedangkan aku, suami, dan anak pertamaku, sebagai pribadi yg introvert, selalu mencari tempat yg sepi.. Alhasil, selalu Ave yg mengalah 😮💨 Kadang kasihan juga liat dia.. Sekali2 dibawa juga sih, liburan keluar.. Keluar kota lebih tepatnya.. Ke tempat ga ad yg kenal sma aku dan suamiku 🤣🤣
Klo pulang sekolah, aku pengennya dia nunggu di kursi dekat gerbang sekolah.. Supaya pas aku jemput, lgs pulang.. Tp namanya juga Ave si ekstrovert... Dia ga pernah duduk di kursi gerbang.. Selalu main2 entah dimana.. Kadang aku jumpai dia main sma kakak2 kelas.. Dia sendiri yang masih bocil 😜 Sebegitu cepatnya akrab dengan orang lain..
Sehat2 terus ya, anakku..
Mami selalu doakan, lancarlah jalan hidupmu kelak 🙏🏻
2025/8/27 Diedit ke
... Baca selengkapnyaKalau dengar kata Avariel, aku langsung kebayang wajah Ave yang selalu ceria, dagu bertumpu di meja kayu, senyum tipis tapi matanya berbinar. Dia itu definisi kecil dari karakter fiksi yang ekstrovert menurut versiku sendiri. Bedanya, ini bukan tokoh di buku atau film, tapi beneran hidup di rumahku setiap hari.
Sebagai orang tua yang cenderung introvert, punya anak se-ekstrovert Ave itu campur aduk rasanya. Di satu sisi capek karena energinya kayak nggak ada habisnya, di sisi lain aku belajar banyak hal baru dari cara dia berinteraksi dengan orang. Misalnya, waktu kami mampir di kafe kecil, Ave duduk di meja kayu dengan segelas jus jeruk dan waffle cokelat keju di depan dia. Belum lima menit, dia udah ngobrol sama meja sebelah, nanya-nanya soal makanan favorit mereka. Aku yang biasanya cuma fokus ke menu dan pengen cepet pulang, jadi ikut-ikutan senyum dan nimbrung.
Kalau di sekolah, dia juga mirip banget sama karakter fiksi yang ekstrovert di cerita-cerita: gampang akrab, cepat nyocok, dan nggak canggung sama yang lebih tua. Pernah satu kali aku datang jemput dan berharap dia duduk manis di kursi dekat gerbang, eh ternyata malah asyik main sama kakak-kakak kelas. Dia satu-satunya yang masih bocil, tapi bisa ketawa paling kencang. Dari situ aku sadar, dunia sosial Ave jauh lebih luas dari dunia sosialku dulu waktu kecil.
Aku juga pelan-pelan belajar untuk nggak terus-terusan ngerem dia. Dulu, tiap dia minta ikut ke tempat rame atau acara keluarga besar, refleksku pengen nolak karena kebayang capeknya. Tapi sekarang aku coba atur ritme: kadang kami pilih tempat sepi buat menyesuaikan dengan aku dan suami, kadang kami turuti keinginannya ke tempat yang lebih ramai supaya dia bisa "ngisi baterai" versi ekstrovert. Sesekali kami bawa dia keluar kota, ke tempat di mana nggak ada yang kenal kami, jadi dia bisa bebas eksplor tanpa aku terlalu merasa diawasi banyak orang.
Yang paling aku pegang, meskipun dia berbeda sama kami, tugas kami sebagai orang tua adalah jadi rumah yang aman buat Ave. Ekstrovert bukan berarti harus terus di luar rumah, introvert bukan berarti anti-sosial. Ave mengajarkan aku kalau bersosialisasi itu bukan sesuatu yang menakutkan, sementara aku berusaha ngajari dia kalau punya waktu tenang dan sendiri itu juga penting.
Mungkin, kalau orang baca komik atau novel tentang karakter fiksi yang ekstrovert, mereka lihatnya seru dan lucu. Di hidupku, Avariel adalah versi nyata dari itu: ceria, gampang dekat dengan orang lain, tapi juga punya sisi lembut yang cuma keluar di rumah. Sehari-hari, doaku sederhana: semoga Ave sehat terus, tetap jadi dirinya sendiri, dan kelak ketemu lingkungan yang bisa menghargai ke-ekstrovert-annya tanpa berusaha mengubah dia jadi orang lain.