Goes to slow living in Urban Era’s
Sejak 5 tahun lalu aku punya cita-cita buat pindah ke desan untuk ngerasain dan mulai slow living, tp karena satu dan lain hal masih belum bisa terpenuhi.. pelan-pelan aku melepas banyakk keinginan dihidup
Mengingat sekarang usia sudah menyentuh 30an Plus plus… mengurangi banyak aktivitas sosial diluar, jadi banyak ide- ide bermunculan.. aku harap apa yang aku sharingkan disini bisa mengisi teman2 semuanya, dan kedepan juga bisa mewujudkan yang menjadi impian terpendamkau yaitu slow living disuatu desa nanti.. #slowliving #homeandliving #SetujuGak #storyofmylife #ADayInMyLife
Selama menjalani slow living di tengah era urban yang serba cepat, aku menyadari pentingnya menyesuaikan gaya hidup dengan kebutuhan tubuh dan pikiran. Weekend jadi waktu berharga untuk memulai pagi dengan sarapan sederhana seperti overnight oatmeal dan sandwich, yang cukup mengisi energi tanpa membuat tubuh terasa berat. Aku juga memilih untuk lebih banyak bergerak, misalnya berjalan santai mencari sinar matahari pagi yang menyehatkan. Aktivitas ringan seperti ini membantu menjaga badan agar tidak mudah sakit dan menenangkan pikiran. Selain itu, aku juga menyempatkan diri untuk membeli sayuran segar seperti kangkung sebagai bagian dari pola makan sehat. Slow living bukan berarti berhenti produktif atau mengisolasi diri, tapi memberi ruang bagi kita untuk lebih sadar pada kebutuhan fisik dan emosional. Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa sesekali melepas kecepatan hidup bisa membuat hati lebih damai dan tubuh lebih bugar. Semoga sharing ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang ingin memulai perubahan kecil menuju hidup yang lebih tenang dan bermakna.
