merasa karena aku berdoa
"Berdoalah, niscaya Allah kabulkan"
Kata kata inilah yg menjadi harapan bagi orang orang yang memerlukan pertolongan tangan Tuhan.
Banyak yang berpendapat bahwa
kehidupannya baik dari semua sisi, karena berdoa
Apakah mereka yang tidak memiliki kehidupan yang baik berarti tidak pernah berdoa?
sepertinya tidak begitu.
Karena kehidupan ini bagai pemandangan alam.
Ada jalan berkelok, ada bukit ada gelap- hujan
susah-sedih hingga terpuruk pun banyak, padahal doa selalu dipanjatkan.
Doa itu sebuah ikhtiar yang dianjurkan, merasa diri hina dan membutuhkan Tuhan Sang Maha Memiliki Segala.
Allah bukan kantong dora emon, yang ketika nobita minta apapun diberinya.
Allah itu Tuhan Sang Maha Pemilik dan dunia adalah tempat ujian.
Di uji penerimaan diri terkabulkan ?
Merasa bahagia ketika diberi keinginan dunia.
Di uji pula ketika menjadi samar nanar dalam pandangan, tak sesuai dengan keinginan diri?
Harus tetap dijalani
Semua itu membuktikan bahwa Allah itu Tuhan, suka suka Allah memberi atau menggantikannya dengan cerita lain.
Dan semua manusia adalah hambaNya yang harus taat dengan perintahNya.
"Ya Allah yang Maha Hidup lagi Maha Melakukan Segala sesuatu dengan menerus, dengan rahmatMu aku mohon pertolongan, janganlah Engkau memasrahkan padaku untuk aku solusikan sendiri walau hanya sekejappun.
perbaiki semua masalahku.."
Sepertinya doa Fatimah ini lebih meringankan hati.
Berdoa memang sering dianggap sebagai jalan utama menggapai harapan dan ketenangan dalam hidup. Dari pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa doa bukan semata-mata permintaan agar semua keinginan langsung terkabul. Justru, doa adalah bentuk pengakuan kita atas keterbatasan diri dan ketergantungan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sering kali, ketika doa tidak langsung dijawab sesuai harapan, saya jatuh pada perenungan bahwa kehidupan itu ibarat pemandangan alam yang penuh liku—ada jalan berkelok, ada bukit dan lembah, serta ada hujan yang menemani setiap perjalanan. Di saat seperti itulah pentingnya memaknai makna doa sebagai ikhtiar dan bukan sekadar harapan instan. Saya pun belajar dari doa Fatimah yang memohon agar tidak diserahkan masalah hanya kepada diri sendiri walau sekejap pun. Doa ini mengajarkan kita untuk terus memohon pertolongan Allah dan menerima apapun yang diberikan-Nya, baik itu sesuai keinginan ataupun ujian. Banyak yang beranggapan bahwa kehidupan yang baik menandakan doa yang terkabul. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya kita menghadapi kesulitan walau selalu berdoa. Hal ini justru menguatkan bahwa dunia adalah tempat ujian. Kita diuji kesabaran, ketegaran, dan keikhlasan dalam menerima ketentuan-Nya. Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika ini, saya mencoba memandang doa sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat iman, bukan hanya sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah. Dengan begitu, hati menjadi lebih ringan dan siap menghadapi segala ketentuan dan perubahan. Doa juga menjadi cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta, menumbuhkan kedekatan spiritual yang membantu menenangkan hati. Jadi, teruslah berdoa dengan penuh keyakinan, tetapi juga dengan kesadaran bahwa Allah memberikan yang terbaik menurut hikmah-Nya, yang mungkin tidak selalu sama dengan keinginan kita.

