Caption :
Menurut aku Mens Reanya @pandji pragiwaksono yang memberikan lelucon terhadap Bapak @Dharma Pongrekun Official adalah luar biasa cerdik untuk memframing dan menjatuhkan karakter seseorang yang tidak percaya terhadap covid. Dan penayangan ini bersamaan dengan munculnya isu Super Flu 2026. Untuk saya, semua tidak ada yang kebetulan. Penayangan Mens Rea pun di platform yang dimiliki oleh Blackrock / Vanguard. Yang notabene, telah mendapat keuntungan besar dari kejadian Covid 2020 sebagai pembuat vaksin. Paham kan benang merahnya. AI, digital ID, semua yang tadinya dibilang hanya bualan konspirasi teori, ternyata menjadi nyata. Tapi aku paham sih arahnya kemana. Guyon guyon seperti ini, semata mata menjadi menertawakan para truth seekers dan critical thinker di luar sana. The world is a stage ( dunia adalah sandiwara ) yang dikendalikan oleh 1% elit dari total populasi. Dan para elit ini tidak mau budak budaknya terbangun dari kenyataan yang ada. Ingat kata John D. Rockefeller : “ I dont want a nation of thinker, i want a nation of worker “. Yang intinya ya, kita gak boleh mikir, mending jadi pekerja aja selamanya. Ingat film Hunger Games. Para elit memberikan entertainment / hiburan sebagai distraksi. Supaya mereka bebas merencanakan total kontrol untuk kita semua. Mereka yang sediakan hiburannya, mereka juga yang akan buat kita sengsara. Wake up sheep, time to become a lion. Pahami pesan pesan framing yang dibungkus lelucon seperti ini, hanyalah untuk menumpulkan akal kritis tajam kita.
Dalam pengalaman saya mengikuti perkembangan berbagai narasi seputar pandemi COVID-19 dan teori konspirasi, sering kali media hiburan digunakan untuk membentuk opini publik secara halus. Saya pribadi pernah merasa bingung ketika menyaksikan tayangan seperti Mens Rea yang mengemas kritik serius dalam bentuk humor, sehingga kadang sulit membedakan mana fakta dan sekadar hiburan. Fenomena ini seolah menjadi cara elit global untuk menyeimbangkan antara hiburan dan kontrol sosial. Saya pernah membaca bagaimana perusahaan besar seperti Blackrock dan Vanguard yang memiliki kepentingan ekonomi dalam vaksin juga berperan dalam penyebaran konten digital, yang memperkuat dugaan bahwa kesengajaan ada di balik setiap tayangan populer. Selain itu, teknologi seperti AI dan digital ID yang dulu dianggap teori konspirasi kini mulai menjadi nyata, memperkuat rasa waspada saya terhadap bagaimana data pribadi dan identitas digital bisa dipakai untuk pengawasan masif. Dari sudut pandang saya, penting sekali untuk tetap kritis dan jangan langsung percaya pada narasi yang disajikan secara humoris, karena bisa jadi ada pesan tersembunyi yang memengaruhi pemikiran kita. Saya juga teringat kutipan John D. Rockefeller yang mengingatkan bagaimana elit ingin masyarakat jadi pekerja tanpa banyak berpikir. Ini sangat mirip dengan apa yang saya rasa terjadi saat ini, di mana hiburan dipakai sebagai alat pengalihan agar masyarakat tidak terlalu kritis terhadap isu-isu besar yang memengaruhi hidup mereka. Oleh karena itu, bagi saya dan mungkin banyak orang lain yang aktif sebagai truth seekers, memahami bahasa framing dan konteks di balik humor adalah kunci agar tidak mudah terjebak pada pandangan yang sengaja dibuat untuk menumpulkan akal kritis. Semoga tulisan ini bisa membuka wawasan dan makin banyak orang yang sadar akan pentingnya berpikir kritis dalam era informasi sekarang.














