... Baca selengkapnyaKadang aku cuma pengin bilang pelan, “Aku mau ngobrol sama kamu, Yah…” Bukan soal hal besar, cuma cerita receh tentang hari-hari yang rasanya beda sejak kamu nggak ada. Dulu kalau capek atau bingung, aku tahu harus pulang ke siapa. Sekarang, aku cuma bisa ngobrol lewat doa dan kata-kata yang kutulis sendiri.
Kalau bisa ngobrol lagi sama ayah, aku mau bilang: aku akan selalu bangga bisa bilang kalau kamu adalah ayahku. Dulu mungkin aku jarang ngomong langsung, malah kadang bandel dan ngeyel. Tapi setelah kamu pergi, aku baru benar-benar sadar, sosok ayah itu nggak tergantikan. Setegas-tegasnya ayah, pelukannya tetap jadi tempat pulang paling aman.
Setahun sejak kepergianmu, rasanya masih sama: perih tapi pelan-pelan belajar ikhlas. Puisi mengenang 1 tahun kepergian ayah ini sebenarnya cuma caraku buat mengabadikan kenangan. Aku tulis hal-hal kecil yang dulu sering aku abaikan: caramu tertawa, cara kamu manggil namaku, sampai nasihat simpel, “Jadi orang yang kuat dan baik, ya.” Sekarang setiap kali aku hampir nyerah, kata-kata itu yang terngiang.
Kalau bisa ngobrol lagi sama ayah, aku mau bilang: terima kasih, ayah, karena sudah ngajarin aku jadi orang yang kuat dan baik. Mungkin aku belum sepenuhnya kuat, kadang masih nangis diam-diam, tapi aku berusaha. Aku nggak mau nyia-nyiain semua perjuanganmu. Di tengah rindu yang nggak ada ujungnya, aku belajar berdiri sendiri sambil terus bawa namamu dalam setiap langkah.
Maaf ya, ayah, kadang aku masih sedih tanpa kamu di sini. Ada momen-momen tertentu yang bikin dada sesak: lihat teman jalan sama papanya, dengar lagu tentang ayah ibu yang liriknya bikin nangis, atau sekadar lewat tempat yang dulu sering kita datangi bareng. Di situ aku merasa kehilangan dua kali: kehilangan sosokmu dan kehilangan versi diriku yang cuma muncul waktu ada kamu.
Kini hanya rindu yang bisa aku ungkapkan. Rindu papa yang telah tiada ini nggak akan pernah benar-benar hilang, cuma berubah bentuk. Kadang jadi doa, kadang jadi puisi tentang ayah tiga bait, kadang cuma jadi bisikan pelan sebelum tidur, “Yah, apa kabar di sana? Semoga tenang dan damai, ya.”
Aku juga belajar menerima kalau setiap orang punya cara sendiri buat berduka. Ada yang menulis puisi untuk kakak yang sudah meninggal, ada yang menangis diam-diam, ada yang pura-pura kuat di depan orang lain. Aku sendiri memilih menuangkan semuanya lewat kata-kata seperti ini. Bukan supaya dibilang tegar, tapi supaya hatiku punya tempat untuk pulang.
Pada akhirnya, satu hal yang selalu aku pegang: aku selalu bangga dan bersyukur punya ayah hebat sepertimu. Aku masih berharap suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi, di tempat yang tenang dan damai. Sampai hari itu datang, biar di sini aku terus hidup dengan baik, sambil bawa namamu dalam setiap doa dan setiap rindu yang nggak pernah selesai.