Kita hidup di zaman,
di mana fitnah punya algoritma,
dan kebencian punya jam tayang.
.
Kebenaran kini berjalan tertatih,
di antara suara yang saling menjerit.
Yang paling sering bicara akal sehat,
kadang paling sering kehilangan nurani
.
Aku pun menatap waktu,
dan melihat manusia berlari tanpa arah.
Mereka mencari kebenaran di layar,
padahal ia bersembunyi di dada yang tenang.
.
Aku pun belajar menyayangi pelan-pelan,
agar tidak kehilangan lembut di tengah kerasnya dunia.
Di era modern saat ini, media sosial menjadi medan pertempuran informasi yang sering memicu fitnah dan kebencian yang meluas. Banyak orang terjebak dalam perang pendapat tanpa memfilter kebenaran secara bijak. Sebagai manusia yang hidup di zaman serba digital, kita harus lebih sadar dalam menyikapi arus informasi yang cepat dan seringkali tidak jelas kebenarannya. Puisi ini mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana kebencian dan informasi yang salah (fitnah) semakin mudah tersebar melalui algoritma yang mengatur konten di berbagai platform digital. Jam tayang berita dan konten negatif membuat kita sering merasakan kegelisahan dan kehilangan rasa kemanusiaan. Namun, kebenaran sejati tidak selalu tampak di luar sana, melainkan hadir dalam ketenangan hati dan akal sehat yang harus terus dijaga. Mengutip waktu "05:31 2025/10/16" yang tertulis dalam gambar, hal ini seolah menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan meski kondisi sosial masih penuh dengan konflik dan kebingungan. Penting bagi kita untuk belajar menyayangi pelan-pelan dan menjaga kelembutan hati agar tidak terbawa oleh kerasnya dunia yang semakin digital dan cenderung menghancurkan empati. Dalam kehidupan sehari-hari, cobalah untuk memfilter informasi yang diterima dan berlatih empati terhadap sesama. Menjaga komunikasi yang positif dan memahami perasaan orang lain membantu menciptakan lingkungan yang lebih damai. Memahami bahwa kebenaran tidak selalu harus diperoleh melalui layar digital semata, tapi juga melalui refleksi diri dan ketenangan di dalam hati. Dengan kesadaran ini, kita dapat membangun komunitas yang lebih harmonis, mengurangi penyebaran fitnah, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi. Puisi ini menjadi pengingat penting untuk tidak kehilangan nurani meskipun dunia di sekitar kita tampak keras dan penuh kebencian.
