... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu tipe orang yang kalau habis makan rasanya belum lengkap kalau belum minum yang manis-manis. Es teh manis, es kopi susu, minuman kemasan di supermarket, semua tuh rasanya menggoda banget. Apalagi kalau lagi kumpul bareng teman, satu meja penuh minuman manis itu kayak udah jadi hal yang dinormalisasi.
Tapi makin ke sini aku sering lihat info kalau banyak minum manis menyebabkan masalah serius, bahkan sampai cuci darah. Dari situ aku mulai mikir, apa yang selama ini aku anggap “biasa aja” ternyata bisa bahaya buat tubuh sendiri. Penyebab terbanyak orang cuci darah itu katanya dari penyakit gula (diabetes) dan darah tinggi, dan dua-duanya sangat berkaitan sama pola makan dan kebiasaan minum kita.
Pelan-pelan aku mulai stop minuman manis, terutama setelah makan. Dulu, setiap habis makan berat, tanganku refleks nyari es teh. Sekarang aku biasain minum air putih dulu. Awalnya hambar banget, tapi setelah beberapa minggu tubuh mulai terbiasa. Anehnya, setelah dibiasakan, minuman manis justru terasa terlalu kuat dan bikin eneg.
Waktu belanja ke supermarket, aku juga jadi lebih sadar. Rak penuh minuman kemasan yang warnanya menarik dan kelihatan segar itu sebenarnya kebanyakan tinggi gula. Dulu aku sering ambil tanpa mikir, sekarang aku coba baca labelnya dulu. Kalau gulanya tinggi banget, aku mikir dua kali: “Layak nggak sih cuma demi enak 5 menit, tapi efeknya ke tubuh bisa tahunan?”
Banyak minum manis menyebabkan tubuh kerja ekstra. Ginjal harus menyaring lebih banyak, kadar gula naik-turun, tekanan darah bisa ikut kacau. Memang efeknya nggak langsung kelihatan hari itu juga, tapi pelan-pelan numpuk. Makanya, banyak orang yang keliatannya sehat di luar, tiba-tiba divonis diabetes atau harus cuci darah.
Sekarang, triknya aku adalah selalu sedia air putih. Aku taruh teko dan gelas di meja kerja atau dekat tempat aku biasa duduk. Jadi kalau haus, yang pertama kali aku lihat ya air putih, bukan minuman manis. Minum air putih sebelum makan dan di antara jam makan bikin aku nggak terlalu ngidam minuman manis lagi.
Bukan berarti aku nggak pernah minum manis sama sekali, tapi aku buat aturannya sendiri: bukan setiap hari, bukan setelah setiap makan, dan porsinya lebih kecil. Dengan cara ini, aku tetap bisa menikmati, tapi nggak lagi menormalisasi minuman manis sebagai kewajiban setelah makan.
Kalau kamu juga lagi coba stop minuman manis, mungkin bisa mulai dari hal kecil: ganti satu gelas minuman manis per hari jadi air putih. Lama-lama, badan kamu yang bakal kasih “feedback” kalau ternyata hidup tanpa banyak gula itu lebih enak, lebih ringan, dan mudah-mudahan bisa jauh dari risiko cuci darah dan penyakit gula.