sarjana susaj dapat kerja
Sebagai seseorang yang juga menghadapi tantangan mendapatkan pekerjaan setelah lulus sarjana, saya memahami betul betapa sulitnya kondisi saat ini. Data menunjukkan bahwa pengangguran dan underemployment bagi sarjana kini mencapai titik tertinggi dalam 45 tahun terakhir, bahkan banyak yang bekerja di bidang tidak sesuai jurusan. Salah satu faktor utama adalah kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengambil alih peran pekerjaan entry-level, termasuk di bidang profesional seperti hukum, akuntansi, dan pemasaran. Hal ini tentu menjadi alarm bahwa lulusan baru harus lebih adaptif dan menguasai skill yang susah digantikan oleh mesin, khususnya kemampuan coding dan penggunaan AI sebagai operator. Pengalaman saya pribadi, mengikuti pelatihan coding camp dan mendapatkan sertifikasi global seperti Microsoft Elevate dan IBM Skills Build, memberikan keuntungan kompetitif yang nyata. Dengan skill digital ini, saya bisa melamar pekerjaan jarak jauh (remote job) dari berbagai perusahaan tanpa terbatas oleh lokasi, dan mendapat peluang di pasar global. Sangat penting bagi sarjana muda untuk tidak takut terhadap AI, melainkan menggunakannya sebagai alat produktivitas yang mempercepat proses kerja hingga 10 kali lipat. Menguasai AI dan teknologi terkait membuka jalan untuk tetap relevan dan tidak tergantikan. Program beasiswa coding gratis yang tersedia juga menjadi jembatan akses bagi siapapun yang ingin belajar dan bersaing di era baru ini. Intinya, menghadapi persaingan ketat di dunia kerja saat ini perlu sikap proaktif. Belajar skill baru, manfaatkan teknologi, dan jangan terjebak dalam pekerjaan yang itu-itu saja. Jangan biarkan gelar sarjana hanya menjadi formalitas, tapi jadikan bekal yang bisa di-upgrade dengan kemampuan digital agar bisa beradaptasi dan bertahan dalam perubahan zaman.









