Siomay Kampung

Tiba-tiba dapat kiriman siomay kampung yg isinya kentang rebus, telur rebus, kubis rebus, siomay.

Sambal kacang tentunya.

Tiba-tiba saja ada di mejaku. Lengkap dgn es teler.

Perutku kenyang bgt meskioun aku sebelumnya menerapkan hanya mengkonsumsi #realfood .

Akhir-akhir ini agak longgar.

Sedikit makan makanan yg bertepung.

BB ku masih berhenti turun.

Kadang malah naik. Hadeehh... #intermittentfatsing ku jd terganggu deh

2025/9/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai penggemar jajanan tradisional, siomay kampung itu selalu punya tempat spesial di hati (dan di perut). Versi kampung menurutku cirinya sederhana: isinya nggak neko-neko, biasanya cuma siomay, kentang rebus, telur rebus, kadang kubis dan kol gulung, lalu disiram bumbu saos kacang yang kental dan gurih. Ditambah perasan jeruk limau dan sedikit kecap, sudah auto nikmat. Kalau bicara bumbu saos kacang, tiap penjual punya racikan sendiri. Ada yang dominan manis karena pakai banyak gula merah, ada juga yang lebih gurih dan sedikit pedas. Versi favoritku itu bumbu kacang yang teksturnya agak kasar, bukan yang terlalu halus, karena masih kerasa remahan kacangnya. Biasanya dibuat dari kacang tanah goreng, bawang putih, cabai, gula merah, garam, dan sedikit air panas. Kalau mau lebih wangi bisa ditambah sedikit perasan jeruk limau di atas siomay setelah disiram saus. Siomay kampung juga punya tampilan yang khas. Gambar siomay ndeso yang sering kita lihat biasanya berupa piring penuh potongan siomay, kentang, kubis, dan telur rebus, semuanya dilapisi saus kacang cokelat kental sampai hampir nutupin isiannya. Kadang ditambah sambal merah di pinggir piring buat yang suka pedas. Menurutku, tampilan "berantakan" ala kaki lima itulah yang bikin makin menggoda. Buat yang lagi diet atau menjalani intermittent fasting kayak aku, siomay kampung ini sebenarnya masih bisa diakali supaya lebih ramah di perut dan di timbangan. Misalnya, minta porsi lebih banyak kubis dan telur rebus, kurangi kentang dan siomay yang berbahan tepung. Bumbu kacangnya juga bisa diminta sedikit saja, jadi masih dapat rasa tanpa kebanyakan kalori. Aku juga biasanya menjadikan siomay sebagai salah satu menu di jam makan (bukan cemilan di luar jam), supaya pola #intermittentfasting tetap kepegang. Kalau lagi ngidam berat, aku kadang bikin versi rumahan. Isinya kubis kukus, tahu kukus, telur rebus, dan sedikit kentang. Bumbu kacang kubuat sendiri dengan kacang tanah sangrai, bawang putih, cabai, dan gula merah, tanpa tambahan penyedap. Memang rasanya nggak se"nendang" siomay abang-abang, tapi lumayan bisa mengobati kangen siomay kampung tanpa terlalu merasa bersalah ke BB sendiri. Intinya, siomay kampung itu jajanan sederhana yang mudah memicu nostalgia. Mau dinikmati apa adanya sebagai comfort food, atau dimodifikasi sedikit biar lebih ramah diet, semua sah-sah saja. Yang penting tetap mindful: nikmati rasanya, sadar porsinya, dan jangan lupa imbangi dengan minum cukup air dan tetap gerak biar BB nggak makin bandel naik-turun.