Ekliptika Cinta

akulah Supernova yang telah mendingin

sedangkan kau kini jadi nebula lain

bermimpi di pelukan bintang baru

sedangkan aku menjadi sisa sisa debu

#penabercerita #syairpuisi #sajakindah

2025/9/12 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu nulis puisi "Ekliptika Cinta" ini, aku lagi keranjingan nonton film-film bertema sufisme dan tokoh-tokoh wali perempuan. Salah satu yang bikin aku kepikiran lama adalah kisah Rabiah Al Adawiyah. Buat yang belum tahu, Rabiah itu dikenal sebagai sufi perempuan yang cintanya ke Tuhan begitu dalam, sampai-sampai konsep cintanya beda banget dengan cinta manusia biasa. Banyak film dan kisah tentang Rabiah Al Adawiyah yang menggambarkan gimana beliau meninggalkan cinta duniawi dan benar-benar fokus pada cinta Ilahi. Waktu nonton, aku sempat ngerasa, "Wah, beda banget ya sama cintaku yang masih sering terjebak di ekliptika cinta sesama manusia." Di puisi ini aku pakai metafora supernova, nebula, komet, dan galaksi untuk menggambarkan perpisahan dan kehilangan. Sementara Rabiah justru seperti bintang yang memilih orbit lain: orbit penghambaan dan ketulusan. Kalau kamu lagi cari film Rabiah Al Adawiyah subtitle Indonesia, biasanya tujuannya biar lebih paham dialog-dialog spiritualnya. Pengalamanku, nonton dengan subtitle bikin kita bisa lebih meresapi setiap kalimat, terutama doa dan syair yang diucapkan. Dari situ aku belajar, bahwa ada level cinta yang nggak lagi bergantung pada dibalas atau tidak. Cinta yang tetap menyala walau nggak selalu kelihatan, mirip bintang tua yang tetap berpendar di sudut langit. Puisi ini sebenarnya ngobrol tentang cinta yang sudah nggak sejajar lagi—"dua planet dalam orbit yang tak lagi sejajar"—tapi saat aku renungkan kisah Rabiah, aku jadi mikir: mungkin ketika hubungan manusia merenggang, itu kadang jadi momen buat kita menggeser orbit, mendekat pada Tuhan, atau mendekat pada versi diri sendiri yang lebih utuh. Metafora supernova yang meledak dan jadi sisa-sisa debu juga bisa dibaca sebagai fase hancur yang justru melahirkan galaksi baru dalam hidup kita. Buat kamu yang suka puisi galaksi dan tema kosmik seperti "akulah supernova yang telah dingin" atau "kau kini jadi nebula lain", mungkin kamu juga bakal relate kalau setelah patah hati suka muncul pertanyaan-pertanyaan spiritual. Di titik inilah, kisah tokoh seperti Rabiah Al Adawiyah jadi cermin: bagaimana mengubah rasa kehilangan jadi jalan pulang pada cinta yang lebih luas. Jadi, selain menikmati film Rabiah Al Adawiyah dengan subtitle Indonesia, kamu juga bisa coba menuangkan perasaanmu dalam bentuk puisi kosmik seperti "Ekliptika Cinta" ini; siapa tahu, dari langit yang gelap itu, pelan-pelan akan muncul bintang baru dalam hidupmu.