2025/10/10 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali nonton film "Pele: Birth of a Legend (2016)", jujur aku kira cuma bakal lihat perjalanan pesepak bola biasa. Tapi ternyata, dari awal aja sudah kelihatan banget gimana kerasnya hidup Pele kecil. Dia dan teman-temannya sampai harus membuat bola dari kain bekas dan kaos kaki, dan jalanan pun mereka jadikan tempat mengasah skill. Yang paling ngena buatku adalah momen ketika Brazil kalah di final Piala Dunia dan Pele kecil naik ke atap cuma untuk mendengarkan pertandingan lewat radio. Di situ dia berjanji pada ayahnya kalau suatu hari nanti dia akan memenangkan Piala Dunia untuk Brazil. Janji itu kelihatannya sederhana, tapi buat anak yang bahkan tidak punya sepatu, itu seperti mimpi yang mustahil. Ada satu adegan yang menurutku sangat kuat: saat Pele dan teman-temannya ikut pertandingan tapi semua orang menertawakan mereka karena baju dan sepatu seadanya. Mereka bahkan memakai sepatu bekas yang ukurannya terlalu besar sampai terus terjatuh dan kebobolan banyak gol di babak pertama. Di titik itu, banyak orang mungkin menyerah. Tapi Pele malah melepas sepatunya dan bermain tanpa alas kaki, seperti saat dia bermain di jalanan. Sejak itu permainan dia berubah total: menghentikan bola dengan kaki, mengecoh pemain lawan, mencetak gol demi gol. Meski timnya tetap kalah tipis, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Buatku, ini menunjukkan kalau gaya bermain asli dan kepercayaan diri itu penting banget. Setelah itu, ada bagian ketika pencari bakat mendatanginya dan mengajaknya bergabung dengan klub Santos. Di sini konflik baru muncul. Di klub itu, gaya sepak bola Eropa lebih diutamakan, dan pelatih melarang Pele bermain dengan cara yang biasa dia gunakan sejak kecil. Dia diminta menyesuaikan diri, sampai akhirnya dia ragu sama kemampuannya sendiri dan tidak mencetak satu gol pun. Menurutku fase ini relate banget dengan kita yang kadang dipaksa mengikuti standar orang lain dan malah kehilangan jati diri. Yang bikin inspiratif, titik balik Pele datang saat dia memutuskan untuk "main saja dengan berani". Dia kembali pada gaya bermainnya sendiri: menghentikan bola, berputar melewati pemain lawan, lalu mencetak gol salto spektakuler. Adegan itu bukan cuma keren secara visual, tapi juga jadi simbol kalau dia menerima siapa dirinya dan berani tampil beda. Dari situ, kepercayaan dirinya pulih dan kariernya melesat. Puncaknya tentu waktu dia masih berusia 17 tahun sudah mencetak banyak gol dan membantu Brazil memenangkan Piala Dunia. Bayangin aja, dari anak yang tidak sanggup membeli bola sampai mengangkat trofi dunia. Buatku, pesan terbesar film ini bukan cuma tentang sepak bola, tapi tentang bagaimana kemiskinan, ejekan orang, dan tekanan sistem tidak bisa menghentikan seseorang yang benar-benar cinta dengan apa yang dia lakukan. Kalau kamu suka cerita legenda seperti "bujang nadi dan dare nandung" atau cerita rakyat lain yang penuh perjuangan, film "Pele: Birth of a Legend" ini rasanya punya vibe yang mirip, cuma versi modern dan di dunia sepak bola. Bedanya, ini bukan sekadar legenda, tapi kisah nyata seorang anak yang menjadikan mimpinya kenyataan lewat kerja keras dan keberanian. Setelah nonton, aku jadi mikir: siapa sebenarnya pemain bola favoritku, dan kenapa aku mengagumi mereka? Mungkin kamu juga bakal mulai mikir hal yang sama setelah nonton film ini.

Cari ·
salto ke belakang