... Baca selengkapnyaKalau diinget-inget, momen ujian di sekolah itu bukan cuma soal lembar soal dan nilai di kertas, tapi juga soal keputusan kecil yang ternyata ngaruh ke cara kita hidup. Waktu teman-teman satu kelas heboh bagi-bagi contekan, aku sering banget dilema. Di satu sisi pengen juga dapat nilai tinggi, tapi di sisi lain ada rasa nggak nyaman kalau harus bohong sama diri sendiri.
Menurut aku, ketika seorang siswa tetap milih jujur saat ujian meskipun teman-temannya menyontek dan nilainya lebih tinggi, itu tandanya nilai kejujuran udah jadi nilai yang mendarah daging dalam dirinya. Bukan cuma sekadar aturan sekolah, tapi sudah menempel di hati. Mau ada kesempatan nyontek pun, tetap nggak kepikiran buat ikut-ikutan.
Di sekolah dulu, apalagi di SMK atau SMA yang suasananya rame banget kayak di depan gedung SMKN 4 atau jurusan PEMASARAN gitu, godaan buat nyontek itu ada terus. Kadang duduk sebangku sama teman yang pinter, guru lagi sibuk keliling, kelas berisik, terus ada kode-kode kecil kayak batuk sengaja, ketokan meja, atau kertas kecil yang dilempar. Di situ kerasa banget siapa yang pegang nilai moral kuat, siapa yang gampang goyah.
Jujur aja, aku pun pernah ngerasa “kecil” ketika lihat nilai teman yang mencontek bisa 90 atau 100, sedangkan aku cuma dapat 70. Tapi lama-lama aku sadar, rasa lega setelah jujur itu nggak bisa diganti sama angka di kertas. Rasanya kayak: "Oke, ini memang hasil kerja aku sendiri." Dan itu bikin percaya diri pelan-pelan naik, karena kita tahu kemampuan asli kita ada di angka itu.
Nilai kejujuran menurutku itu bukan cuma buat ujian tulis. Kebiasaan jujur pas ujian bisa kebawa sampai ke dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat pegang uang kas, jualan, atau nanti waktu sudah kerja beneran di bidang pemasaran, administrasi, atau apa pun. Orang yang terbiasa jujur akan lebih dipercaya, dan kepercayaan itu yang sering kali jadi modal utama kesuksesan.
Kalau dari sisi pelajaran PPKN atau sosiologi, sering disebut ada macam-macam nilai: nilai material, nilai estetika, nilai dominan, dan nilai moral. Nah, sikap jujur saat ujian ini menurutku jelas termasuk nilai moral, karena berkaitan sama benar–salah dan hati nurani. Ketika kita tetap jujur walau semua orang di sekitar nyontek, itu juga bisa dibilang nilai yang mendarah daging, karena dia muncul dari kebiasaan dan keyakinan dalam diri, bukan karena diawasi guru.
Buat kamu yang mungkin pernah diejek gara-gara nggak mau nyontek atau nilainya kalah tinggi dari yang suka contek, jangan minder. Ingat aja, bukan angka yang menentukan masa depan, tapi kejujuran dan usaha kita. Nilai bisa dilupakan orang, tapi karakter yang jujur biasanya diingat terus.
Kalau kamu sendiri, tim "lebih baik nilai kecil tapi jujur" atau "yang penting lulus"? Cerita dong pengalaman ujian paling berkesan kamu, pernah nggak ngerasa sendirian karena tetap milih jujur saat yang lain nyontek?
dulu aku waktu ujian KLO gak bisa, ngitung kancing kak jawabnya untuk soal pilihan ganda 😂