#PernahBokek nggak sih kalian uang sisa 100 ribu, tapi gajian suami kurang seminggu?
jujur aku pernah ya, sebenarnya setiap bulan tuh aku selalu cukup2 in untuk atur keuangan, tapi kebetulan bulan itu ada kebutuhan mendadak yaitu acara hajatan tetangga, akhirnya harus keluar uang deh huhu.
Jadi, waktu uang tinggal 100 ribu dan gajian suami masih kurang seminggu lagi, aku memutuskan untuk berhemat. Yang kadang jajan, jadi gk jajan, yang tadinya beli sayur, nggak beli sayur🥲.
"terus makan pakai apa kak? "
Alhamdulillah ya, kebetulan suami aku tuh kerja di restoran, jadi dia masih dapat jatah makan dari resto nya. Nah, dia bawa lauk dan nasi dari sana, dari situ aku bisa berhemat nggak belanja sayur.
kalau kalian jadi aku gimana ya atur uang 100 ribu itu untuk seminggu?
#KeseharianKu yang tiap hari atur uang ini, pasti juga kalian rasakan kah selama jadi istri?
... Baca selengkapnyaKalau ngomongin uang 100.000, di foto mungkin kelihatan segepok dan bikin senyum, tapi begitu dipakai hidup seminggu, kerasa banget ya gimana kurangnya. Aku sendiri waktu itu bener-bener harus pelan-pelan banget ngeluarin uang seratus ribu itu, sampai rasanya tiap pegang pecahan uang rupiah 100 ribu jadi mikir 2–3 kali sebelum belanja.
Biasanya aku mulai dari cek isi dapur dulu. Lihat dulu stok beras, telur, mie, bumbu, sama lauk yang masih bisa diolah. Kadang kita ngerasa kurang uang karena kebiasaan pengen beli ini itu, padahal di dapur masih ada bahan yang bisa diolah. Dari situ baru aku hitung: uang 100 ribu itu mau dipakai buat apa aja. Misal 50 ribu buat kebutuhan harian yang urgent, 30 ribu buat jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendadak, 20 ribu buat transport atau pulsa yang penting.
Untuk makan, aku benar-benar manfaatkan apa yang ada. Karena suami kerja di restoran dan dapat jatah makan, itu sangat ngebantu. Dia bawa lauk dan nasi, jadi di rumah aku tinggal nambah sayur bening simpel dari sisa stok di kulkas. Kalau nggak ada sayur sama sekali, aku biasanya beli yang murah meriah di warung paketan 5–10 ribu, tapi tetap aku batasin. Pegang uang 100 ribu di tangan itu bikin aku belajar bedain mana kebutuhan dan mana keinginan. Jajan kopi susu, boba, atau snack cantik langsung aku stop dulu.
Supaya nggak gampang tergoda, aku jarang pegang uang seratus ribu dalam bentuk besar. Biasanya aku tukar jadi pecahan lebih kecil, misal 20 ribuan atau 10 ribuan. Entah kenapa, secara psikologis, lihat gambar uang 100 ribu banyak dalam bentuk pecahan kecil bikin aku lebih "ngeh" kalau uang tinggal segini dan harus cukup sampai tanggal segini. Jadi setiap keluar satu lembar, berasa banget berkurangnya.
Hal lain yang aku lakuin adalah cari cara biar tetap dapet "keajaiban" kecil. Misalnya jual barang yang nggak kepakai di rumah, kayak baju layak pakai, tas, atau pernak-pernik di online shop. Kadang dari situ bisa nambah uang saku dikit. Atau ikutan challenge berhadiah di aplikasi, lumayan kalau menang. Wallpaper uang 100 ribu di HP juga kadang aku pakai sebagai pengingat buat nggak boros, semacam sugesti biar lebih semangat nabung.
Buat yang sering ngerasa uang kurang, menurutku penting banget catat pengeluaran harian, walau cuma 5 ribu–10 ribu. Dari situ kelihatan bocor halusnya di mana. Uang seratus ribu itu mungkin kelihatan kecil kalau sekali belanja habis di minimarket, tapi kalau dipecah buat kebutuhan pokok, ternyata masih bisa diatur. Kuncinya: jangan gengsi hidup sederhana, jangan malu bilang lagi irit ke teman, dan usahakan selalu syukuri setiap rezeki yang datang, sekecil apa pun.
benar tu kak rasanya kalau bahas yg berkaitan dgn keuangan rumah tangga pikiran gak akan tenang