🍋💛 Hai teman-teman lemon semua, balik lagi sama aku.
Kali ini aku mau berbagi alternatif spons cuci piring dari bahan alami.
Nah, udah aku jelasin di per slide-nya di atas ya. Kalian bisa baca buat yang mau baca.
Oke, jadi untuk spons-spons alami ini, pasti kalian pernah dengar, atau mungkin orang tua kalian pernah pakai di zaman dulu. Tapi beberapa juga masih ada yang dipakai sampai saat ini.
Oke, itu aja sedikit sharing tips, sharing informasi dari aku.
... Baca selengkapnyaAku mulai cari pengganti spons cuci piring biasa setelah sadar kalau spons kuning-hijau itu ternyata susah didaur ulang dan cepat banget jadi sarang bakteri. Dari situ aku coba beberapa alternatif spons alami yang aku tulis di atas, dan ternyata masing-masing punya karakter sendiri.
Pengalaman pertama aku itu pakai gambas kering (loofah). Cara pakainya simpel: gambas tua dikeringkan, lalu dipotong-potong sesuai ukuran tangan. Sebelum dipakai, aku biasanya rendam sebentar di air hangat biar seratnya lebih lembut. Untuk cuci piring berminyak, loofah ini cukup oke, tapi kuncinya harus selalu dijemur setelah dipakai supaya nggak lembap dan berjamur. Aku sengaja gantung dekat jendela dapur yang kena sinar matahari.
Kalau lagi ngadepin kerak membandel di wajan, aku lebih sering pakai sabut kelapa. Seratnya memang kasar, jadi jangan dipakai di teflon atau permukaan yang sensitif. Tapi untuk panci stainless atau alat masak yang banyak kerak nasi, sabut kelapa ini juara banget. Plus poinnya, sabut kelapa gampang dicari di pasar tradisional dan harganya murah.
Aku juga sempat coba spons serat jagung dan sekam padi/jerami. Di aku, serat jagung kerasa lebih halus, enak buat cuci piring sehari-hari yang nggak terlalu kotor. Sayangnya, di Indonesia masih agak susah nyarinya, biasanya aku lihat di toko online yang khusus jual peralatan ramah lingkungan. Kalau sekam padi atau jerami, menurutku lebih cocok buat cuci peralatan tertentu aja, karena kalau terlalu sering kena air dia cepat rapuh.
Nah, yang paling bikin aku nyaman itu spons dari serat ramie (rami). Teksturnya halus tapi tetap bisa ngangkat kotoran, dan aman buat wajan anti-lengket. Memang harganya sedikit lebih mahal dibanding sabut kelapa, tapi karena awet, jatuhnya tetap worth it. Kalau lagi kehabisan, aku kadang pakai serat ubi atau bonggol sayuran (kayak batang brokoli atau bonggol kol) buat scrubbing ringan. Setelah dipakai, tinggal dibuang ke kompos.
Buat yang mau mulai beralih ke pengganti spons cuci piring alami, tips dari aku:
1. Siapkan minimal 2–3 jenis spons alami: misalnya gambas kering untuk harian, sabut kelapa untuk kerak, dan ramie untuk teflon.
2. Biasakan bilas spons pakai sabun, peras sampai nggak ada air menetes, lalu jemur atau gantung di tempat yang kering dan punya sirkulasi udara bagus.
3. Ganti spons secara berkala. Meski dari bahan alami, kalau sudah berbau atau mulai hancur, mending diganti saja.
Sejak rutin pakai gambas cuci piring dan spons-spons alami ini, sampah spons sintetis di rumah aku jauh berkurang. Rasanya juga lebih tenang karena tahu yang aku pakai bisa terurai kembali ke alam. Kalau kalian sudah pernah coba pengganti spons cuci piring lain, boleh banget sharing juga, siapa tahu aku bisa ikutan coba di dapurku.
mertuaku kadang masih pakai sepet kelapa buat bersihin juga kak