... Baca selengkapnyaSejak coba nanam bawang merah sendiri di pot, aku baru ngeh kalau hampir semua bagian bawang merah itu bermanfaat. Dulu aku cuma pakai umbi buat bumbu dasar, sisanya langsung masuk tempat sampah. Sekarang, dari akar bawang merah sampai bunganya, sebisa mungkin aku pakai dan olah lagi.
Akar bawang merah biasanya ikut kebuang waktu kita kupas. Padahal, kalau habis masak kamu kumpulkan akarnya, bisa dijadiin bahan kompos sederhana. Aku biasanya campur akar bawang, sisa sayur, dan kulit buah, lalu difermentasi di ember tertutup. Setelah beberapa minggu, hasil komposnya aku campur ke media tanam. Tanaman daun-daunan jadi lebih subur. Air rebusan akar bawang merah juga bisa dipakai buat siram tanaman sebagai pupuk cair ringan, walau baunya agak menyengat, jadi aku pakainya tipis-tipis dan tidak terlalu sering.
Untuk daun bawang merah, jujur ini bagian favoritku. Daunnya yang hijau itu kaya vitamin dan bagus buat imun serta pencernaan. Aku biasanya iris tipis dan campurkan ke telur dadar, tumis sayur, atau bakwan. Rasanya lebih lembut dibanding umbinya, tapi tetap wangi. Kalau lagi malas masak ribet, aku cuma tumis daun bawang merah dengan sedikit kecap dan cabai, udah jadi lauk sederhana yang enak.
Bunga bawang merah juga menarik banget. Waktu bawang mulai berbunga, biasanya aku nggak langsung petik. Ada dua manfaat: pertama, bunganya bisa menarik serangga penyerbuk ke kebun kecilku; kedua, sebagian bunga aku petik buat dicampur ke salad atau tumisan. Rasanya ringan, nggak sekuat umbi, dan teksturnya agak renyah. Menurut beberapa sumber, bunga bawang merah juga mengandung antioksidan, jadi lumayan sebagai tambahan gizi.
Kulit bawang merah yang tipis dan berwarna merah keunguan ternyata punya antioksidan tinggi. Aku sering kumpulkan kulitnya, cuci, lalu rebus sebentar. Air rebusannya kadang aku pakai sebagai teh herbal hangat (disaring dulu dan jangan berlebihan), rasanya ringan dengan aroma khas bawang yang samar. Selain itu, air rebusan kulit bawang merah bisa jadi pewarna alami untuk nasi, telur rebus, atau kain katun kecil-kecilan kalau kamu suka DIY. Sisanya bisa dimasukkan ke kompos sebagai pupuk.
Air rendaman atau rebusan bawang merah juga multifungsi. Kalau lagi flu ringan, di keluargaku sering bikin ramuan tradisional: bawang merah direbus, airnya diminum hangat-hangat dengan madu atau gula aren sedikit. Untuk tanaman, air rendaman bawang yang sudah diencerkan juga pernah aku coba siramkan ke media tanam sebagai pupuk cair sekaligus pengusir hama. Tapi penting banget untuk tidak pakai terlalu pekat dan tidak terlalu sering, supaya tanaman tidak "kaget".
Dari pengalaman ini, aku jadi makin sadar kalau bawang merah itu bukan cuma bumbu dapur. Bagian-bagian bawang merah seperti akar, daun, bunga, kulit, sampai air rendamannya bisa dimanfaatkan dengan cara kreatif dan tetap aman kalau digunakan sewajarnya. Bonusnya, sampah organik di dapur berkurang dan tanaman di rumah ikut senang. Kalau kamu, sudah pernah coba manfaatkan bagian bawang merah yang mana selain umbinya?