cerpenku
Di Bawah Guguran Sakura
Angin sore berhembus lembut, membawa wangi manis dari kelopak bunga sakura yang mulai berguguran. Di sebuah bangku kayu yang dikelilingi pohon-pohon rindang, duduklah seorang wanita bernama Ibu Aminah.
Ia mengenakan jilbab warna peach yang lembut, dan matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang berkelok di kejauhan. Tangannya saling bertaut di pangkuan, sebuah tanda ketenangan namun juga menyimpan kerinduan yang mendalam.
Sudah bertahun-tahun ia menanti.
Setiap sore, ia akan datang ke tempat ini. Tempat yang dulu pernah menjadi sakua pertemuan mereka. Ia ingat betul janji yang diucapkan bertahun lalu: "Aku akan kembali, tunggulah aku di sini."
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Musim berganti, dedaunan rontok dan tumbuh kembali, namun sosok yang dinanti belum juga terlihat. Namun, keyakinan di hatinya tak pernah luntur.
Ia percaya, suatu saat nanti, sosok itu akan muncul dari balik deretan pohon sakura itu, tersenyum dan berkata, "Maaf telah membuatmu menunggu lama."
Sambil menunggu, ia menikmati keindahan di sekelilingnya. Kelopak bunga sakura yang jatuh perlahan seolah ikut menemani kesendiriannya, menjadi teman setia dalam setiap detik penantian.
Di hatinya, ia berbisik pelan, "Di mana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja. Aku akan tetap di sini, menunggu sampai kita bertemu kembali."
Dan di bawah langit yang mulai memerah karena senja, ia tetap duduk, sabar, dan penuh harap... menunggu seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.

























