Novel KBM Cinta yang Disembunyikan
Part 3
“Anna? Kamu... kamu jangan main-main ya!” suara Safira meninggi karena takut.
Anna tidak bisa menjawab. Dunianya mulai berputar. Rasa nye ri itu kini datang dalam gelombang yang tak tertahankan, seolah tu buhnya sedang dipak sa pe cah dari dalam. Di tengah kesadarannya yang mulai menipis, bayangan masa lalu kembali berkelebat di benaknya saat-saat awal ia terjebak dalam perjan jian gi la ini.
“Andai saja aku tidak pernah menan datangani kon trak itu…”
Pintu depan mansion terbuka dengan ban tingan ke ras. Seorang pria masuk dengan wajah lelah yang seketika berubah menjadi wajah kaget saat melihat pemandangan di ru ang tengah.
“Anna!”
Itu suara Bima. Pria yang menjadi pusat dari seluruh pende ritaan dan cintanya. Namun, sebelum Anna sempat melihat wajah pria itu dengan jelas, kegelapan lebih dulu mereng gut kesadarannya.
Kegelapan yang mereng kuh Anna di lantai marmer itu terasa seperti pe lu kan yang sudah lama ia rindukan. Dingin, sunyi, dan tanpa rasa sakit. Namun, alam bawah sadarnya menolak untuk menyerah begitu saja. Di balik kelopak matanya yang terpejam, memori mulai berputar layaknya rol film usang yang diputar ulang secara pak sa. Suara teriakan Safira dan kema rahan Bima perlahan memudar, digantikan oleh suara bising yang jauh lebih akrab dari suara knalpot matic yang menderu di gang sempit dan aroma minyak u rut yang tercampur bau apek dinding lembab.
Setahun yang lalu, sebelum semua keme wahan pal su ini menje ratnya, Anna adalah seorang ga dis yang hanya punya satu ambisi yaitu memastikan ibunya tetap bernapas esok pagi.
Jakarta, Satu Tahun Sebelumnya…
Bunyi alarm dari ponsel mu rah dengan layar retak itu meme cah keheningan pagi di sebuah rumah petak di pinggiran Kota Jakarta. Ja rum jam menunjukkan pukul 04.30 WIB. Anna Lutfia terbangun, mengerjap pelan menatap langit-langit kamar yang berjamur. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Di sampingnya, ibunya masih terlelap dengan napas yang terdengar sedikit berat suara ngorok halus yang sebenarnya adalah tanda bahwa pa ru-pa runya mulai teren dam cairan akibat jan tungnya yang le mah.
Anna bang kit menuju dapur sem pit yang posisinya berdampi ngan dengan ka mar mandi. Ia mulai menyalakan kompor, merebus air, dan menyiapkan bubur halus untuk ibunya. Inilah ritu al paginya sebelum ia bertransformasi menjadi sosok yang berbeda di pusat kota.
“Ibu... sarapan dulu, ya,” bisik Anna satu jam kemudian, sambil membantu ibunya duduk bersandar pada tumpukan bantal yang sudah menipis.
Ibunya tersenyum lemah. Wajahnya yang dulu can tik kini terlihat layu, dengan lingkaran hitam perma nen di bawah matanya. “Padahal kamu nggak usah repot-repot, Na. Ibu bisa sendiri. Nanti kamu telat ke ho tel.”
“Nggak apa-apa, Bu. Anna sudah siapkan ob atnya juga. Ibu harus janji, habis makan langsung minum ob at yang biru ini, ya? Biar dadanya nggak se sak,” ucap Anna lembut sambil menunjukkan ob at yang dibungkus plastik bening sebelum akhirnya menyuapkan sesendok bubur.
“Ob atnya ma hal ya, Na?” tanya ibunya tiba-tiba, matanya menatap nanar pada kemasan ob at yang kini berada di at as meja kayu yang sudah lapuk.
Anna tertegun sejenak, tetapi senyum lembut langsung muncul di wajahnya. “Nggak kok, Bu. Ga ji Anna di ho tel sama kerja sampingan cukup buat semuanya. Ibu jangan mikirin bia ya, yang penting Ibu se hat.”
Itu adalah keboho ngan pertama dari ribuan keboho ngan yang akan ia rangkai di masa depan. Kenyataannya, harga ob at itu setara dengan ja tah makannya selama seminggu.
Judul : Cinta yang Disembunyikan
Penulis : Parwati
Tersedia di K B M App.























































