Kadang aku ngerasa gagal sebagai orang tua cuma karena emosiku naik turun. Tapi makin ke sini, aku belajar kalo jadi orang tua itu bukan soal nggak pernah marah. Tapi soal gimana aku bisa sadar, berhenti, dan milih respon yang lebih baik.
Anakku nggak butuh aku jadi sempurna. Dia cuma butuh aku hadir, berusaha, dan tetap mencoba, meski lagi rapuh.
Dan ternyata, itu sudah cukup.
Kalau kamu juga lagi belajar kontrol emosi di depan anak, cerita sedikit di kolom komentar ya. Hal apa yang paling menantang buat kamu akhir-akhir ini? 💛
... Baca selengkapnyaAku mulai sadar kalau cara mengontrol emosi di depan anak itu nggak bisa instan. Awalnya aku cuma tahu teori, tapi prakteknya berantakan, apalagi kalau rumah lagi kacau, kerjaan numpuk, badan capek. Di momen seperti itu, aku paling gampang kebablasan ngomel. Pelan-pelan, aku cari cara yang realistis buatku sebagai ibu yang juga manusia.
Pertama, aku pakai teknik napas 4-4-4 yang sering kamu lihat di konten mental health. Caranya: tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, hembuskan 4 detik. Kedengarannya sepele, tapi saat anak lagi rewel dan aku hampir meledak, aku sengaja mundur sebentar, pura-pura "ambil minum" lalu lakukan napas ini beberapa kali. Setelah itu, nada suaraku biasanya turun dan kepala lebih jernih.
Kedua, aku kasih jeda 10 detik sebelum respon. Dulu, setiap anak bikin salah, refleksku langsung ngomel. Sekarang, aku biasain diri buat diam dulu. Kalau perlu, aku bilang ke anak, "Bunda lagi jengkel, ya. Bunda diam dulu sebentar, nanti kita ngobrol lagi." Jadi aku nggak pura-pura nggak marah, tapi belajar mengelola emosi biar nggak melukai anak.
Ketiga, alihkan fokus sejenak. Pas kepala penuh pikiran dan rumah berantakan, aku sering sengaja ngajak anak pindah ruangan, duduk di lantai, atau baca buku sebentar. Kadang aku juga cuma minum air dan tarik napas dalam. Hal sederhana ini kayak tombol reset, bikin aku lebih siap buat ngomong baik-baik.
Keempat, aku belajar jujur soal perasaanku tanpa membebani anak. Misalnya, aku bilang, "Hari ini bunda capek, jadi kalau bunda kelihatan sedih, itu bukan salah kamu, ya." Dari situ anak jadi tahu kalau orang dewasa juga punya emosi, tapi tetap berusaha mengontrol respon di depan mereka.
Belajar mengontrol emosi buatku juga berarti bikin batasan. Kalau aku sudah terlalu lelah, aku nggak lagi maksain semua harus sempurna. Piring bisa nanti, cucian bisa besok, tapi caraku merespon anak saat mereka butuh aku itu nggak bisa diulang. Kadang aku pilih duduk sama anak dulu, baru beresin rumah setelahnya.
Yang paling penting, aku mengizinkan diriku salah. Ada hari di mana aku tetap kebablasan marah. Bedanya, sekarang aku berani minta maaf ke anak. Aku peluk dia dan bilang, "Tadi bunda kebablasan, maaf ya. Bunda lagi belajar juga." Di situ aku merasa, menjadi orang tua bukan soal selalu kuat, tapi soal berani bertumbuh bareng anak.
Kalau kamu juga lagi belajar mengontrol emosi, kamu nggak sendirian. Setiap usaha kecilmu—napas dulu sebelum marah, memilih diam, atau sekadar minum air dulu—itu sudah langkah besar. Pelan-pelan aja, kita tumbuh bareng anak, bukan cuma menuntut mereka buat mengerti kita.
aku skrg beljr diam dulu kk disaat ada sesuatu yg bikin aku marah .aku usahakan untuk diam dl 🥺