... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali denger orang Belanda bilang “pannenkoek”, aku langsung mikir, ini sebenarnya sama nggak sih dengan panekuk yang biasa kita makan di rumah? Ternyata beda, dan menurutku seru banget buat dicoba, apalagi kalau kamu suka eksplor sarapan ala luar negeri.
Secara bentuk, pannenkoek itu lebih mirip gabungan crepe dan pancake. Dia tipis dan lebar, tapi bukan setipis crepe Prancis. Biasanya satu piring cuma diisi satu pannenkoek besar yang nutupin hampir seluruh piring. Warna cokelat keemasan, kadang ada bagian yang sedikit lebih gelap karena karamelisasi adonan saat dipanggang, dan sering digulung atau dilipat.
Buat kamu yang masih bingung, panekuk adalah kue dadar yang dibuat dari adonan tepung, telur, susu, dan sedikit mentega atau minyak. Nah, panekuk Belanda alias pannenkoek ini versi khas Belanda dengan tekstur lebih tipis dan diameter lebih besar. Rasanya nggak terlalu manis, jadi bisa fleksibel: mau dijadikan menu manis atau asin sama-sama cocok.
Kalau lagi di Belanda, kamu bakal sering nemu restoran khusus pannenkoek yang menunya panjang banget. Tapi kalau masak sendiri di rumah juga gampang. Biasanya aku pakai campuran tepung terigu, susu cair, telur, garam sedikit, dan mentega cair. Adonan dibuat agak encer supaya gampang dituang ke wajan dan menyebar tipis. Kuncinya pakai wajan anti lengket dan panaskan dulu sampai benar-benar panas, baru tuang adonan tipis-tipis.
Hal yang bikin aku suka panekuk Belanda adalah topping-nya yang kreatif. Versi manis favoritku: gula bubuk dan sirup, atau irisan apel yang ikut dimasak di adonannya. Kadang juga pakai cokelat hazelnut atau selai buah. Versi asin, orang Belanda sering pakai daging asap (bacon), keju, atau jamur. Jadi satu pannenkoek aja udah cukup mengenyangkan buat brunch.
Kalau kamu penasaran bedanya dengan pancake ala Amerika: pancake Amerika cenderung tebal, fluffy, dan disajikan bertumpuk-tumpuk. Sementara pannenkoek biasanya satu lembar besar di satu piring, bisa digulung, dilipat, atau dimakan langsung pakai pisau dan garpu. Di fotonya mungkin kelihatan tumpukan panekuk yang digulung cokelat keemasan — itu khas banget pannenkoek yang matang sempurna.
Menurutku, serunya nyobain panekoek bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana. Enak dimakan pas santai di akhir pekan, sambil ngopi atau teh hangat. Kalau kamu lagi cari inspirasi sarapan atau brunch baru, panekuk Belanda ini wajib masuk daftar cobaan. Siapa tau setelah coba sekali, kamu jadi ikutan nagih dan ikutan bilang, “Yuk bikin pannenkoek lagi!”