Book Review (The Old Man and the Sea by Ernest H)
Judul buku: Old Man and the Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerbit: Narasi
Tahun terbit: 1995
Cet. 10 2026
Tebal/jumlah halaman: 164 Halaman
"Tapi aku berusaha tidak berhutang. Awalnya kau meminjam, lalu lama-lama kau pasti akan mengemis" (hal. 21)
Novel klasik yang ngegambarin setiap afirmasi positif untuk tidak menyerah dengan keadaan. Kata-kata awal yang ngajarin untuk tidak berkecil hati dengan ketidak beruntungan. Tekun dan terus ngejalanin setiap harinya dengan sisa-sisa harapan yang ada.
keren banget Santiago si kakek tua yang ada di novel ini 👍
Untuk Novel ini, Aku kasih rating 4,5/5 ⭐️
#preelovedbuku
Awalnya aku kira The Old Man and the Sea bakal jadi bacaan berat karena labelnya klasik dan nama besar Ernest Hemingway. Tapi begitu mulai baca, ternyata ceritanya sederhana banget: fokus ke Santiago, si kakek nelayan tua, yang berjuang menangkap ikan marlin raksasa. Justru dari kesederhanaan itu, pesan yang nyampe ke aku jadi kerasa dalam. Yang paling bikin aku kepikiran adalah hubungan antara Santiago dan laut. Dia bukan cuma "kerja" di laut, tapi benar-benar menghormati laut dan semua makhluk di dalamnya. Cara dia ngobrol sendiri, manggil ikan marlin itu sebagai lawan yang terhormat, dan tetap ngehargain ikan itu walau akhirnya dikejar hiu, bikin aku mikir ulang soal gimana kita memandang alam dan hal-hal di sekitar kita. Dari sisi pembaca pemula, menurutku buku The Old Man and the Sea cukup bersahabat. Tebalnya cuma sekitar 164 halaman, jadi nggak bikin overwhelming. Bahasanya memang nggak se-“ringan” novel populer kekinian, tapi masih bisa diikuti kalau dibaca pelan-pelan. Aku sendiri butuh waktu beberapa hari, sengaja dibagi sedikit-sedikit supaya bisa nikmatin tiap bagiannya. Buat yang cari bacaan buat #ngabuburead atau temen baca satu minggu, buku ini pas banget. Kalau kamu lagi nyari buku yang bisa bantu refleksi tentang semangat pantang menyerah, buku The Old Man and the Sea ini worth it banget. Cerita Santiago berlayar sendirian, gagal berkali-kali, tetap berangkat meski dibilang sial, bikin aku ngerasa ditemenin saat lagi ngerasa nggak beruntung dalam hidup. Kutipan soal berusaha nggak berhutang dan nggak mengemis itu juga nyentil, kayak ngingetin supaya tetap menjaga harga diri di tengah kesulitan. Buat yang pengen beli buku The Old Man and the Sea, sekarang versi terbitan Narasi lumayan gampang dicari, baik baru maupun preloved. Karena klasik, buku ini jarang banget "basi" dibahas. Bahkan kalau kamu lagi hunting preeloved buku klasik, The Old Man and the Sea bisa jadi salah satu judul wajib masuk wishlist. Secara pribadi, alasan aku kasih rating 4,5/5 adalah karena efek setelah baca yang kerasa banget. Ceritanya memang nggak penuh plot twist, tapi justru di situ kerennya: fokus ke satu perjalanan panjang Santiago melawan kelelahan, rasa sakit, dan waktu. Setelah tutup buku, aku jadi pengen lebih sabar ngejalanin hari-hari, kayak Santiago yang tetap mendayung pulang meski hasil tangkapannya tinggal tulang. Kalau kamu masih ragu mulai baca Hemingway, menurutku The Old Man and the Sea adalah pintu masuk yang pas. Pendek, temanya jelas, dan penuh simbol tentang hidup, kegagalan, keberanian, dan harga diri. Cocok buat kamu yang lagi cari bacaan reflektif, bukan cuma hiburan, tapi juga teman merenung di malam yang sepi.

