Premis buku kedua ini masih sama seperti sebelumnya, tentang orang-orang hoki yang bisa jajan di Zenitendo. Bedanya, kali ini bukan cuma cemilan aja, tapi ada tambahan berupa permainan, yaitu 𝘔𝘦𝘯𝘬𝘰 (di Korea mirip ddakji), permainan kartu yang dilempar hingga kartunya terbalik. Kehadiran permainan ini bikin Toko Zenitendo jadi makin beragam.
Adapun yang paling berkesan buatku adalah kalimat Beniko:
Ada nuansa 𝘧𝘢𝘵𝘦 𝘷𝘴 𝘧𝘳𝘦𝘦 𝘸𝘪𝘭𝘭 dari kalimat Beniko, dimana keberuntungan bisa hadir sebagai takdir, tapi bagaimana kita menyikapi, itulah yang menentukan apakah ia berjalan baik atau malah menjadi petaka. Saat Beniko berkata “𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙥𝙖-𝙖𝙥𝙖.” itu seperti penegasan bahwa tanggung jawab sepenuhnya ada di tangan manusia, bukan pada toko ajaib atau benda-benda yang mereka beli.
Aku suka bagaimana Zenitendo konsisten menyelipkan pesan moral lewat jajanan ajaibnya. Walaupun tiap bab terasa repetitif, tapi itu wajar aja mengingat ini buku ditujukan untuk anak-anak. Dengan gaya ringan dan penuh fantasi, ceritanya tetap menghadirkan tema yang relevan buat kehidupan sehari-hari.
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali dengar judulnya, "Toko Jajanan Ajaib Zenitendo 2", yang langsung kebayang di kepalaku jelas: snack ajaib yang bisa ngabulin keinginan. Tapi setelah baca, aku merasa konsep snack ajaib di sini justru dipakai buat ngajak kita mikir soal pilihan dan konsekuensi.
Setiap jajanan di Zenitendo itu sebenarnya punya ‘personality’ dan fungsi masing-masing. Dari kutipan di halaman 117, dibilang kalau semua jajanan itu adalah teman-teman Beniko. Buatku, ini bikin snack ajaib di Zenitendo bukan sekadar alat pemenuh keinginan, tapi lebih kayak cermin karakter orang yang membelinya. Kalau niatnya baik, hasilnya cenderung manis. Tapi kalau motivasinya udah bercampur iri, benci, atau pengin balas dendam, ya siap-siap aja berakhir jadi nasib sial.
Konsep "choices and consequences" kerasa banget di buku ini. Bahkan di blurb dan kutipan lain, kayak peringatan di halaman 11: jangan terlalu banyak bermain-main karena selalu ada orang yang lebih beruntung dari kita. Ini nyambung sama snack ajaib yang sering bikin tokoh-tokohnya lupa diri. Mereka merasa tiba-tiba jadi ‘lebih’ dari orang lain cuma gara-gara dapet keberuntungan instan dari jajanan ajaib. Dari situ aku jadi kepikiran, di dunia nyata pun kita sering tergoda cari jalan pintas, entah lewat keberuntungan, privilege, atau kesempatan instan lainnya.
Hal menarik lainnya, di seri kedua ini muncul juga permainan seperti menko, bukan cuma camilan. Buatku, ini memperluas makna snack ajaib: yang ajaib bukan hanya makanannya, tapi pengalaman yang datang bareng barang itu. Ada kesan bahwa tiap item baru di Zenitendo—baik itu makanan, permainan, atau benda ajaib lainnya—selalu menguji bagaimana karakter seseorang ketika diberi sedikit ‘kekuatan’ dan ‘keberuntungan’ lebih.
Ilustrasi yang digambarkan sebagai beautiful illustrations juga bikin nuansa tokonya terasa hidup. Waktu baca versi digitalnya, aku ngerasa seolah beneran lagi jalan-jalan ke toko Zenitendo yang penuh snack ajaib warna-warni. Tapi di balik tampilan manis itu, ending ceritanya sering bittersweet. Kadang tokohnya dapat pelajaran dengan cara yang agak pedih, walaupun tetap aman dibaca anak-anak.
Sebagai pembaca dewasa, aku jadi menikmati lapisan maknanya: snack ajaib di Zenitendo itu kayak metafora untuk kesempatan hidup. Kita bebas memilih mau dipakai buat apa, tapi tanggung jawab akhirnya tetap di tangan kita, bukan di ‘tokonya’ atau di keberuntungan itu sendiri.